I’rob surat Al-Kautsar itu apa saja, ya? Seperti yang kita tahu bahwasannya ada empat jenis i’rob, yaitu i’rob rofa’, nashob, jar, dan jazm. Lalu, apakah semua i’rob tersebut ada dalam Al-Kautsar? Jika ada, apa alasan yang melandasinya?

Meskipun sudah mempelajari banyak teori nahwu, kita harus tetap berlatih menganalisa penerapannya. Dengan begitu, kaidah tersebut akan melekat di ingatan dan kita bisa mengaplikasikannya dengan baik.

Dalam hal ini, kita bisa menguji kemampuan kita untuk menentukan i’rob atau kaidah lain dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah surah Al-Kautsar. Misalnya, kita bisa menentukan kalimah marfu’, manshub, atau majrur beserta tandanya. Kita juga tahu lafadz mana yang menjadi isim, huruf, fiil, fail, maf’ul, dan lainnya.

Untuk mengi’rob surah Al-Kautsar, ada beberapa kaidah yang penting untuk kita pahami. Diantaranya adalah alamat i’rob (rofa’, nashob, jar), jumlah ismiyah dan fi’liyah, mubtada’ khobar, huruf inna (إنّ حرف), huruf jar majrur, athof, mudhof dan mudhof ilaih.

Baiklah, mari kita coba menentukan langsung i’rob serta kaidah nahwu lainnya dalam Al-Kautsar! Berikut uraiannya:

I’rob surat Al-Kautsar ayat satu

Innaa (إِنَّا) artinya sesungguhnya kami. Inna (إِنَّ) sendiri merupakan huruf nashob dan juga huruf taukid yang mana bermakna penekanan. Itulah sebabnya, lafadz tersebut diartikan ‘sesungguhnya’. Sementara, naa (نا) serupa dengan kata nahnu (نحن). Lafadz itu tergolong dhomir mutashil. I’robnya nashob, mabni ala sukun, dan juga sebagai isim inna.

أَعْطَيْناكَ الْكَوْثَر termasuk jumlah fi’liyah, marfu’, sebagai khobar dari inna. Fiilnya adalah lafadz a’thoy (أَعْطَى), yakni fiil madhi. Failnya adalah dhomir naa (نَا), sedangkan maf’ul bih nya adalah ka (كَ) dan kautsar (الْكَوْثَرَ).

Ka (كَ) merupakan maf’ul (objek) yang pertama dan kautsar (الْكَوْثَرَ) adalah objek yang ke dua. Kautsar merupakan objek dari lafadz a’thoy (أَعْطَى). I’rob dari kautsar adalah nashob dengan harokat fathah di akhir huruf sebagai alamatnya.

I’rob surat Al-Kautsar ayat dua

Fa (فَ) menyatakan sebab, sehingga termasuk huruf sababiyah. Artinya, ayat 1 (sebelum adanya huru fa) merupakan sebab terjadinya seseuatu. Sementara, ayat ke dua menyebutkan sesuatu yang terjadi tersebut.

فَصَلِّ (gabungan dari fa sababiyah dan lafadz sholly) adalah fiil amr yang merupakan mabni fiil. Ketika sholly (صَلَّى) dijadikan sebagai fiil amr dengan dhomir anta, maka harus membuang huruf illah sehinggan berubah menjadi sholli (صَلِّ).

Lirobbi (لِرَبِّ) pada lafadz lirobbika (لِرَبِّكَ) menjadi majrur karena kemasukan amil jar, yaitu li dan tandanya adalah kasroh. Robbi (ربّ) sendiri merupakan mudhof, sedangkan mudhif ilaihnya adalah ka (ك).

Wa (الواو) pada wanhar (وَانْحَرْ) adalah huruf athof. Itu artinya, kedudukan ‘wanhar’ sama dengan kata sebelum huruf athof (fa sholli), yaitu sebagai fiil amr. Hal ini karena memang seperti itulah kaidah athof. Dua kata yang dihubungkan harus memiliki posisi yang sama. Jika lafadz sebelumnya adalah fiil amr, maka yang ke duan(setelah athof) juga harus amr.

I’rob surat Al-Kautsar ayat ke tiga

Inna (إِنَّ) merupakan huruf taukid dan syaaniaka (شَانِئَكَ) menjadi isim inna. Syaani’a (شَانِئَ) sendiri menjadi manshub yang ditandai dengan harokat fathah. Lafadz tersebut juga menjadi mudhof dan mudhof ilaihnya adalah ka (كَ).

Huwa (هُوَ) merupakan dhomir. Kedudukannya adalah sebagai mubtada’ serta marfu’. Sementara, alabtar (الْأَبْتَرُ) merupakan khobar-nya. Tepatnya adalah khobar dari isim inna (شَانِئَكَ)

Bagaimana? Menentukan i’rob surat Al-Kautsar tidak terlalu sulit, kan? Asal kita paham kaidahnya, kita pasti busa menentukannya dengan cepat dan tepat. Semoga bermanfaat!

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *