Fiil ruba’i mujarrad bukanlah materi shorof yang sulit. Baiklah, setelah belajar tentang fiil tsulasi mujarrad, selanjutnya adalah mempelajari ruba’i mujarrad. Dua fiil tersebut sama-sama masuk dalam kategori mujarrad. Itu artinya, pola susunan kata dan perubahannya serupa.

Kita memang harus tahu, hafal, dan paham mengenai perubahan kalimah. Istilah umumnya adalah tashrif. Ini sangat perlu untuk menerapkan ilmu shorof dan nahwu. Itulah sebabnya, kita tidak sekadar harus hafal kosakata. Namun, kita juga bisa menyusunnya dengan pola dan aturan yang tepat.

Lantas, apa itu fiil ruba’i mujarrad? Langsung saja, simak penjelasan berikut!

Pengertian Fiil Ruba’i Mujarrad

Ruba’i secara bahasa artinya empat. Sementara, mujarrad berarti terbebas, terlepas, atau bahasa sederhananya adalah murni. Maksudnya adalah tidak terikat dengan huruf lain (baru).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fiil ruba’i mujarrad adalah kalimah fiil yang terdiri atas 4 huruf tanpa adanya tambahan huruf lain. Contoh pada lafadz دَحْرَجَ , semua hurufnya asli, tidak ditambah huruf baru seperti dhomir dan sebagainya.

Bagaimana jika di awal lafadz terdapat huruf tambahan baru? Misalnya, lafadz تَدَحْرَجَ . Dalam kalimah tersebut ada huruf ta’ (tambahan). Maka, fiil tersebut bukan lagi termasuk mujarrad, tetapi mazid. Tepatnya adalah fiil ruba’i mazid. Artinya, fiil tersebut sudah tidak murni karena mendapat tambahan atau sisipan huruf baru.

Bab/Wazan Fiil Ruba’i Mujarrad

Pada postingan sebelumnya telah disebutkan bahwa fiil tsulasi mujarrad memiliki 6 bab (wazan). Bagaimana dengan mujarrad yang terdiri dari 4 huruf ini? Fiil ruba’i mujarrad ini berbeda dengan tsulasi. Bab atau wazannya hanya satu, yaitu “فَعْلَلَ-يُفَعْلِلُ” (fa’lala – yufa’lilu).

Jika ada wazan, maka ada mauzun. Mauzun yang mengikuti wazan fa’lala-yufa’lilu umumnya berupa bina’ mudha’af. Bina’ mudha’af sendiri merupakan suatu kalimah yang mana ain dan lam fiilnya adalah huruf kembar.

Baca Juga :  Mengenal Jumlah Mufidah dan Contohnya

Ada beberapa contoh bina’ mudho’af. Di antaranya adalah زَلْزَلَ (mengguncangkan), دَمْدَمَ (membinasakan), dan fiil lain seperti lafadz حَمْدَلَ dan بَسْمَلَ .

Dalam kitab yang dikarang oleh Imam al-Mala ad-Dunqazi (Matnul Bina’ Wal Asas), kalimah fiil jenis ini bisa berupa lazim maupun muta’addi. Muta’addi artinya membutuhkan maf’ul, sedangkan lazim tidak membutuhkan.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut:
Zaid menggulingkan batu : دَحْرَجَ زَيْدٌ الحَجَرَ
Zaid membungkuk/menunduk : دَرْبَخَ زَيْدٌ

Dua contoh tersebut ada yang lazim dan muta’addi. دَحْرَجَ merupakan muta’addi karena tidak akan jelas maknanya tanpa adanya maf’ul.
دَحْرَجَ adalah fiil dan الحَجَرَ adalah maf’ul. دَحْرَجَ merofa’akan fail/pelaku (زَيْدٌ) dan menashobkan maf’ul bih/obyek (الحَجَرَ).

Pada kalimat ke dua, makna tetap bisa dipahami meskipun tidak ada obyek. Itu karena fiilnya berupa lazim.

Tashrif Ruba’i Mujarrad

Sebagaimana wazan lain, kita perlu tahu bentuk semua tashrif wazan tersebut. Tentu saja mulai dari fiil madhi hingga dharaf. Berikut polanya:

Madhi: فَعْلَلَ
Mudhori’: يُفَعْلِلُ
Mashdar: فَعْلَلَةً
Mashdar: فِعْلَالًا
Mashdar mim: مُفَعْلَالًا
Fail: مُفَعْلِلٌ
Maf’ul: مُفَعْلَلٌ
Amar: فَعْلِلْ
Nahi: لَاتُفَعْلِلْ
Dhorof: مُفَعْلَلٌ

Kira-kira, bagaimana dengan bentuk mauzun ruba’i mujarrad? Tentunya mengikuti pola wazan di atas, mulai dari madhi, mudhori’, sampai dhorof. Bentuk dan tanda baca tinggal disesuaikan, dengan catatan memenuhi syarat ruba’i mujarrad.

Dalam hal ini, yang seringkali dirasa sulit adalah ketika membentuk mashdar mim. Pada dasarnya, pembentukannya cukup mudah. Kita hanya butuh menyamakan dengan wazan mudhori’ ketika majhul. Setelah itu, kita tinggal menambahkan mim zaidah di awal lafadz/kalimah.

Baca Juga :  Tanda-tanda I'rob Nashob dan Penerapannya

Contoh, lafadz يُفَعْلِلُ adalah sebagai mudhori’. Ketika majhul, lam fi’il berubah harokat fathah. Sehingga, kalimah menjadi يُفَعْلَلُ . Untuk merubah ke mashdar mim, berikan tambahan huruf mim zaidah, yakni مُفَعْلَالٌ . Cukup mudah, kan?

Sebenarnya, mempelajari wazan fiil ruba’i mujarrad bukanlah hal sulit. Selagi kita paham polanya, kita bisa menashrif semua kalimah dengan baik. Semoga bermanfaat!

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *