Contoh i’rob jar ada banyak sekali dalam Al-Qur’an. Mulai dari surah pertama hingga terakhir, pasti ada banyak lafadz yang menjadi majrur dalam segi iomu nahwu.

I’rob jar atau yang biasa disebut khofadz merupakan perubahan akhir lafadz/kalimah karena adanya amil atau tanda jar yang masuk. Perubahan tersebut bisa secara ucapan (lafadz) atau taqdir (perkiraan).

Mengacu pada nadhom imrithi, ada tiga tanda i’rob jar. Tanda tersebut antara lain; fathah, kasroh, dan ya’. Masing-masing tanda menempati tempatnya masing-masing. Kasroh bertempat pada jamak muannats salim, jamak taksir munshorif, dan isim mufrod munshorif. Ya’ terdapat di jamak mudzakar salim, isim tasniyah, dan asmaul khomsah. Sementara, fathah menempati isim ghoiru munshorif.

Lalu, bagaimana Contoh i’rob jar penerapannya? Berikut adalah beberapa contoh yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an:

Contoh i’rob jar dalam surat An-Nas

Ada beberapa kalimah majrur dalam penggalan surat An-Nas. Di antaranya adalah ayat satu, ayat empat, dan juga lima. Berikut uraiannya:

Contoh kalimah majrur di ayat 1 (قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّا سِ) adalah بِرَبِّ . Di lafadz tersebut terdapat huruf jar bi (بِ) dan huruf akhirnya berharokat kasroh.

Selanjutnya ada di ayat 4, yaitu مِنْ شَرِّ الْوَسْوَا سِ ۙ الْخَـنَّا سِ . Min Syarri (مِنْ شَرِّ) merupakan majrur karena kemasukan amil min (مِنْ). Tanda jarnya adalah kasroh di akhir lafadz.

Baca Juga :  Inna dan Saudaranya Beserta Pengamalannya

Yang terakhir adalah surah An-Nas ayat 5 (الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّا سِ). Yang beri’rob jar yaitu fii shuduuri ( فِيْ صُدُوْرِ) karena adanya huruf jar fii (فِيْ). Sementara, tandanya adalah harokat kasroh di akhir huruf.

I’rob jar dalam surat al-fiil

Al-Fiil juga merupakan salah satu surah Al-Qur’an yang mana beberapa ayatnya mengandung i’rob jar. Misalnya, ayat 1, 2, 4, dan juga 5.

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَ صْحٰبِ الْفِيْلِ : (QS. Al-Fiil: 1), “Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?” Bi ashhaabi ( بِاَ صْحٰبِ ) menjadi majrur. Ada amil bi (بِ) dan ditandai dengan kasroh.

اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍ : (QS. Al-Fiil ayat 2), “Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?” Fii tadhliili (فِيْ تَضْلِيْلٍ) adalah majrur. Huruf jarnya adalah fii (فِيْ) dan tandanya kasroh.

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَا رَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍ (QS. Al-Fiil: 4), “yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar.” Ada dua majrur di penggalan surah Al-Fiil tersebut, yaitu bihijaarotin (بِحِجَا رَةٍ) dan min sijjiil (مِّنْ سِجِّيْلٍ). Di situ terdapat huruf bi (بِ) dan min (مِنْ) di awal kalimah. Sehingga, lafadz sesudahnya harus berharokat kasroh.

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ (QS. Al-Fiil Ayat 5), “sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” Pada lafadz ka’ashfin (كَعَصْفٍ), ka (كَ) termasuk amil jar. Itulah sebabnya, ashfin harus berakhiran dengan harokar kasroh karena majrur.

Baca Juga :  I'rab Maf'ul Bih dan Kaidah Penempatannya

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa hampir setiap surat dalam Al-Qur’an mengandung kalimah majrur. Misalnya, surat Al-Falaq ayat 1 (بِرَبِّ) dan 2 (مِنْ شَرِّ), An-Nasr ayat 2 (فِيْ دِيْنِ) dan 3 (بِحَمْدِ), dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya, yang harus ditekankan untuk dipelajari dan dipahami adalah amil dan tanda jar. Jika sudah paham, kita busa menganalisisnya dengan sangat baik.

Itulah penjelasan tentang Contoh i’rob jar yang terdapat di Al-Qur’an. Semoga bermanfaat dan teruslah semangat belajar ilmu nahwu!

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *