Bahasa Arab

Terjemahan Nahwu Wadhih Jilid I Bab Jumlah Mufidah

Samudrapikiran.com – Dalam mempelajari bahasa Arab, memahami struktur kalimat merupakan langkah dasar yang tidak bisa dilewatkan. Kata demi kata memang memiliki makna, tetapi makna itu belum tentu utuh sebelum disusun dalam rangkaian yang tepat

Artikel ini merupakan terjemahan dan penjelasan dari kitab Nahwu Wadhih, sebuah rujukan dasar dalam pembelajaran tata bahasa Arab yang telah lama digunakan di berbagai lembaga pendidikan Islam. Kitab ini dikenal dengan penyampaiannya yang sistematis, ringkas, dan mudah dipahami, terutama bagi pemula yang baru mengenal ilmu nahwu.

Pada bagian ini, pembahasan difokuskan pada konsep jumlah mufidah, yaitu susunan kalimat yang memberikan makna sempurna. Melalui contoh-contoh sederhana dan penjelasan yang bertahap, pembaca diajak memahami bahwa satu kata saja belum cukup untuk menyampaikan maksud secara utuh. Sebuah kalimat baru dapat disebut sempurna ketika tersusun dari dua kata atau lebih yang menghadirkan faidah yang jelas bagi pendengar.

Dengan pendekatan yang runtut dan aplikatif sebagaimana ciri khas Nahwu Wadhih, pembahasan ini diharapkan membantu pembaca memahami dasar pembentukan kalimat dalam bahasa Arab sekaligus memudahkan mereka dalam mempraktikkannya, baik dalam percakapan maupun dalam penulisan.

الجُملَةُ المُفِيدَةُ Kalimat yang sempurna

Contoh

  1. البُسْتَانُ جَمِيْلٌ (Taman itu indah)
  2. الشَّمْسُ طَالِعَةٌ (Matahari terbit)
  3. شَمَّ عَلِيٌّ وَرْدَةً (Ali mencium bunga mawar)
  4. قَطَفَ مُحَمَّدٌ زَهْرَةً (Muhammad memetik bunga)
  5. يَعِيْشُ السَّمَكُ فِي المَاءِ (Ikan hidup di air)
  6. يَكْثُرُ النَّخِلُ فِي مِصْرَ (Pohon kurma banyak di Mesir)

 

Pembahasan

     Apabila kita memperhatikan susunan kalimat yang pertama (( البُسْتَانُ جًمِيلٌ kita mendapati tersusun dari dua kata yang pertama البستان  yang ke dua   جميلdan apabila kita hanya mengambil satu kata pertama البستان  saja maka kita belum bias memahami kecuali makna tunggalnya dan tidak cukup untuk bercibara dengan orang lain begitu juga apabila kita hanya mengambil kata kedua saja جميل akan tetapi apabila kita menggabungkan kedua kata itu dalam satu kalimat seperti dalam contoh kiat mengatakan البُسْتَانُ جًمِيلٌ maka kita dapat memahami secara sempurna dan kita bisa mengambil faidah yang sempurna dari kalimat itu yaitu mensifati taman dengan sifat indah dan karnanya kalimat tersebut di sebut “jumlah mufidah” dan setiap dari dua kata itu merupakan bagian dari kalimat, dan penjelasan ini berlaku untuk contoh-contoh sisanya.

     Dengan ini kita melihat bahwa kata tunggal tidak cuckup untuk digunakan berbicara kepada orang lain dan sebuah kalimat harus terdiri dari dua kata atau lebih sehingga bisa di ambil faidah yang sempurna (di pahami) sedangkan seperti قُمْ  (Berdirilah) اِجْلِسْ  (Duduklah) تَكَلَمْ (Bicaralah), secara dzahirnya terdiri dari satu kalimat dan sudah cukup digunakan dalam percakapan,karna sebenarnya kata tersebut tidak hanya tersusun dari kata satu saja, tetapi kalimat tersusun dari dua kata salah satunya di ucapkan “ قُمْ  (Berdirilah)”dan yang lainya tidak terucap أَنْتَ (kamu) yang bisa di pahami oleh orang yang mendengar (orang yang di ajak bicara) meskipun tidak di ucapkan

Kaidah

  1. Susunan kalimat yang memiliki manfaat yang sempurna (memili makna) di sebut Jumlah mufidah (kalimat yang sempurna) dan di sebut juga kalam
  2. Jumlah mufidah tersusun dari dua kata atau lebih dan setiap kata dalam jumlah mufidah adlah bagian darinya


Sebelumnya

Cara Menjamak Sholat Fardhu Saat Perjalanan Jauh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Samudrapikiran.com