Samudra Pikiran – Beberapa waktu lalu sempat viral cuitan Twitter anak lulusan UI (Universitas Indonesia) yang kalah saing dengan anak STM saat melamar kerja di sebuah BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Sontak hal itu mendapatkan berbagai komentar dan hujatan dari netizen Indonesia.

Ternyata anak UI itu merupakan frashgraduate sedangkan anak STM itu sudah punya pengalaman bekerja di Fincantieri Trieste, Italia dan telah memperoleh sertifikat welding dari perusahaan pembuat kapal terbesar ke-4 di dunia tersebut.

Sertifikat itu didapatkan dengan uji ulang secara berkala dan tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Apakah Saat ini pengalaman lebih penting dari pada ijazah?

Sebenarnya pertanyaan ini banyak ditanyakan oleh anak yang baru lulus sekolah SMA dan kuliah. Saat saya mau lulus, sekolah saya kedatangan seorang sales wanita dari perusahaan layanan pendidikan. Ia menjelaskan banyak hal mengenai pentingnya persiapan sebelum masuk dunia perkuliahan.

Ketika sesi tanya-jawab dibuka, ada teman saya yang bertanya “Apakah saat ini pengalaman lebih penting daripada ijazah?” Sales itu terlihat berpikir sejenak lalu menjawab pertanyaan.

Baca juga: Tips Mencari Lowongan Pekerjaan di Era Digital

Kalau di luar negeri, mereka lebih mengutamakan pengalaman dari pada ijazah. Bahkan orang tersebut bisa melamar pekerjaan di perusahaan besar walau tidak mempunyai pendidikan yang tinggi. Namun karena kita berada di Indonesia yang masih menggunakan ijazah sebagai patokan utama bahwa seseorang itu mempunyai kualitas, maka mau tidak mau kita juga harus mempunyai ijazah agar bisa diterima.”

Saya ingin menyanggah jawabannya itu, namun saya tahan karena dipikir-pikir tidak sepenuhnya salah. Saat saya ingin bekerja paruh waktu (Freelance) di berbagai perusahaan terutama di bidang media, rata-rata mereka masih mematok ijazah minimal S1 di jurusan yang selaras.

Baca Juga :  Cara Belajar yang Efektif untuk Anak di Sekolah

Perlahan-lahan banyak perusahaan di Indonesia yang tidak lagi memasang persyaratan minimal ijazah S1 di lowongan kerja. Namun mereka mematok syarat minimal pengalaman kerja 1-2 tahun hingga sertifikat keahlian. Lalu bagaimana dengan anak STM atau SMA yang baru lulus dan ingin langsung berkerja? Ya tentu saja kemungkinan kecil mereka akan diterima, kecuali punya the power of orang dalam.

Lalu Bagaimana Solusinya?

Solusi yang paling efektif adalah mengejar pendidikan setinggi-tingginya sambil mengasah keterampilan di bidang yang ditekuni dengan mengikuti bebagai seminar dan pelatihan di luar sekolah atau kuliah.

Jika kamu tidak mempunyai biaya yang cukup, kamu bisa mencoba berkuliah dengan beasiswa yang banyak disediakan oleh pemerintah atau swasta. Contohnya LPDP, beasiswa kader NU juga Muhammadiyah.

Kamu bisa mengikuti berbagai program pelatihan kerja dan keterampilan bersertifikat yang diakui negara serta perusahaan tempat kamu akan melamar pekerjaan.

Tak hanya itu, memenangkan berbagai perlombaan dan mendapat penghargaan juga akan membuat kamu semakin mudah diterima bekerja di manapun kamu mau.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *