Pengertian Dhomir Rafa’ Mutaharrik: Definisi, Ketentuan Penggunaan, dan Contohnya dalam Ilmu Nahwu


Samudrapikiran.com – Dhomir rafa’ mutaharrik (ضَمِيْرُ رَفْعٍ مُتَحَرِّكٌ) merupakan salah satu materi dasar dalam ilmu nahwu dan sharaf yang wajib dipahami oleh pelajar bahasa Arab, khususnya santri di pesantren. Pemahaman terhadap jenis dhamir ini sangat penting karena berkaitan dengan penentuan subjek dalam sebuah kalimat, sehingga membantu memahami makna teks Arab secara tepat, baik dalam Al-Qur’an, hadis, maupun kitab-kitab klasik.
Dalam proses pembelajaran metode sorogan, misalnya, pertanyaan seperti “dhamir ini kembali kepada siapa?” menjadi hal yang sangat sering diajukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa penguasaan dhamir bukan sekadar menghafal bentuk kata, melainkan juga memahami hubungan antarunsur dalam sebuah kalimat.
Apa Itu Dhomir Rafa’ Mutaharrik?
Secara istilah, dhomir rafa’ mutaharrik adalah kata ganti (dhamir) yang berkedudukan rafa’ sebagai fa’il (pelaku) atau naibul fa’il (pengganti pelaku pada kalimat pasif) serta memiliki harakat.
Istilah mutaharrik berarti dhamir tersebut dibaca dengan harakat, baik:
- Dhammah (ُ)
- Fathah (َ)
- Kasrah (ِ)
Dengan demikian, dhamir ini tidak bersifat sukun, melainkan selalu disertai salah satu dari tiga harakat tersebut.
Dhomir Rafa’ Mutaharrik sebagai Fa’il
Ketika berfungsi sebagai fa’il, dhamir menunjukkan pelaku dari suatu pekerjaan.
Beberapa contohnya adalah sebagai berikut.
1. Berharakat Dhammah
Contoh:
نَصَرْتُ
Artinya: Saya telah menolong.
Huruf تُ merupakan dhomir rafa’ mutaharrik yang berkedudukan sebagai fa’il.
2. Berharakat Fathah
Contoh:
نَصَرْتَ
Artinya: Kamu (laki-laki tunggal) telah menolong.
Huruf تَ berfungsi sebagai dhamir rafa’ mutaharrik sekaligus fa’il.
3. Berharakat Kasrah
Contoh:
نَصَرْتِ
Artinya: Kamu (perempuan tunggal) telah menolong.
Huruf تِ menjadi dhamir rafa’ mutaharrik yang menunjukkan pelaku.
Dhomir Rafa’ Mutaharrik sebagai Naibul Fa’il
Selain menjadi pelaku, dhamir ini juga dapat berfungsi sebagai naibul fa’il, yaitu pengganti pelaku dalam kalimat pasif.
Berikut beberapa contohnya.
1. Berharakat Dhammah
Contoh:
نُصِرْتُ
Artinya: Saya telah ditolong.
Huruf تُ menjadi naibul fa’il.
2. Berharakat Fathah
Contoh:
نُصِرْتَ
Artinya: Kamu (laki-laki) telah ditolong.
Huruf تَ berkedudukan sebagai naibul fa’il.
3. Berharakat Kasrah
Contoh:
نُصِرْتِ
Artinya: Kamu (perempuan) telah ditolong.
Huruf تِ juga berfungsi sebagai naibul fa’il.
Ketentuan Penggunaan Dhomir Rafa’ Mutaharrik
Dalam kaidah bahasa Arab, dhomir rafa’ mutaharrik dapat melekat pada tiga bentuk fi’il (kata kerja), yaitu fi’il madhi, fi’il mudhari’, dan fi’il amar.
1. Digunakan pada Fi’il Madhi
Fi’il madhi adalah kata kerja yang menunjukkan pekerjaan telah selesai dilakukan.
Contoh:
نَصَرْنَ
Artinya: Mereka (perempuan jamak) telah menolong.
Huruf نَ pada akhir kata merupakan dhomir rafa’ mutaharrik yang melekat pada fi’il madhi نَصَرَ.
2. Digunakan pada Fi’il Mudhari’
Fi’il mudhari’ menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan.
Contoh:
يَنْصُرْنَ
Artinya: Mereka (perempuan jamak) sedang atau akan menolong.
Huruf نَ di bagian akhir merupakan dhomir rafa’ mutaharrik yang melekat pada fi’il mudhari’ يَنْصُرُ.
3. Digunakan pada Fi’il Amar
Fi’il amar merupakan kata kerja yang menunjukkan makna perintah.
Contoh:
اُنْصُرْنَ
Artinya: Tolonglah kalian (perempuan jamak).
Huruf نَ berfungsi sebagai dhomir rafa’ mutaharrik yang melekat pada fi’il amar اُنْصُرْ.
Pentingnya Memahami Dhomir dalam Bahasa Arab
Menguasai berbagai bentuk dhamir, termasuk dhomir rafa’ mutaharrik, sangat membantu dalam memahami struktur kalimat bahasa Arab.
Dengan mengetahui kedudukan dhamir, seseorang akan lebih mudah menentukan siapa pelaku suatu pekerjaan, kepada siapa kata ganti kembali, serta memahami hubungan antarbagian dalam sebuah kalimat.
Kemampuan ini menjadi bekal penting bagi siapa saja yang ingin mempelajari kitab kuning, memahami tafsir Al-Qur’an, hadis, maupun mendalami ilmu nahwu dan sharaf secara lebih sistematis.
Pemahaman terhadap dhomir rafa’ mutaharrik bukan hanya membantu mengenali bentuk kata, tetapi juga menjadi dasar untuk membaca dan menerjemahkan teks Arab secara benar sesuai kaidah tata bahasa yang berlaku.











