Islami

Makna Syaiun Lillah Lahumul Fatihah dalam Tradisi Tahlilan, Simak Penjelasan Para Ulama

Samudrapikiran.comUcapan “Syaiun Lillah Lahumul Fatihah” (شيءٌ لله لهم الفاتحة) kerap terdengar dalam rangkaian doa bersama atau tawasul pada tradisi tahlilan di Indonesia. Kalimat ini umumnya dibacakan sebelum menghadiahkan bacaan Surah Al-Fatihah kepada para nabi, ulama, orang tua, maupun kaum muslimin yang telah wafat. Meski sudah menjadi tradisi yang dikenal luas di berbagai daerah, tidak sedikit umat Islam yang masih mempertanyakan makna sebenarnya dari ungkapan tersebut serta dasar penggunaannya dalam praktik keagamaan.

Sejumlah ulama menjelaskan bahwa kalimat tersebut tidak mengandung unsur permohonan kepada selain Allah. Sebaliknya, ungkapan itu merupakan bentuk penegasan tauhid, yakni pengakuan bahwa hanya Allah SWT yang menjadi tempat bergantung, tempat memohon pertolongan, sekaligus Dzat yang mampu mengabulkan segala doa dan harapan hamba-Nya.

Arti Syaiun Lillah Lahumul Fatihah

Secara bahasa, “Syaiun Lillah” (شيءٌ لله) dapat diartikan sebagai “sesuatu karena Allah” atau “demi Allah”. Namun, para ulama menjelaskan bahwa makna ungkapan tersebut jauh lebih dalam daripada sekadar terjemahan harfiahnya.

Dalam konteks tawasul dan tahlilan, kalimat tersebut mengandung pengertian bahwa seorang hamba:

  • Mengharapkan keridaan Allah semata.
  • Memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT.
  • Meyakini bahwa hanya Allah yang berkuasa mengabulkan doa.
  • Mengakui bahwa seluruh kebutuhan, harapan, dan keinginan hanya dapat terwujud atas kehendak Allah.

Sementara itu, bagian “Lahumul Fatihah” berarti menghadiahkan pahala bacaan Surah Al-Fatihah kepada orang-orang yang menjadi tujuan tawasul atau doa.

Dengan demikian, keseluruhan ungkapan tersebut merupakan bentuk permohonan kepada Allah yang kemudian disertai hadiah pahala bacaan Al-Fatihah kepada pihak yang disebutkan dalam doa.

Penjelasan Ulama Mengenai Makna Syaiun Lillah

Makna ungkapan tersebut dijelaskan oleh para ulama, salah satunya dalam kitab Qurrah al-‘Ain bi Fataawa As-Syaikh Isma’il Az-Zain halaman 211.

Dalam kitab tersebut dijelaskan:

معنى قول بعض الناس عقب الدعاء: شيءٌ لله، لهم الفاتحة. ومعنى: شيءٌ لله، مطلوبُنا ومقصودُنا شيءٌ لله، أي يُستمدُّ لوجهِ الله ابتغاءً واستمدادًا لا لغيره ولا من غيره، ففيها اعترافٌ بأنَّ الذي يسوق المطالب ويحقق المآرب هو الله تعالى

Artinya:

“Makna ucapan sebagian orang setelah berdoa, ‘Syaiun Lillah, Lahumul Fatihah’ adalah bahwa tujuan dan harapan kami hanyalah karena Allah. Maksud ‘Syaiun Lillah’ ialah memohon pertolongan dan mengharap keridaan Allah semata, bukan kepada selain-Nya dan bukan pula dari selain-Nya. Dalam ucapan tersebut terdapat pengakuan bahwa Dzat yang mengantarkan segala kebutuhan dan mewujudkan seluruh harapan hanyalah Allah Ta’ala.”

Keterangan tersebut menegaskan bahwa inti dari ungkapan itu adalah pengakuan terhadap keesaan Allah dalam memberikan pertolongan dan mengabulkan setiap permohonan.

Tidak Bertentangan dengan Prinsip Tauhid

Sebagian masyarakat terkadang keliru memahami kalimat tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk permohonan kepada selain Allah. Padahal, berdasarkan penjelasan para ulama, makna yang terkandung justru menunjukkan kebalikannya.

Ungkapan Syaiun Lillah merupakan bentuk penegasan bahwa:

  • segala permohonan hanya ditujukan kepada Allah SWT;
  • tidak ada kekuatan selain kehendak-Nya;
  • seluruh harapan hanya bergantung kepada-Nya.

Sementara penyebutan nama-nama orang saleh atau orang yang telah wafat dalam tawasul tidak dimaksudkan sebagai tempat meminta pertolongan, melainkan sebagai bagian dari tradisi doa dengan menghadiahkan pahala bacaan Al-Fatihah kepada mereka.

Peran dalam Tradisi Tahlilan

Di Indonesia, ucapan Syaiun Lillah Lahumul Fatihah telah menjadi bagian yang cukup akrab dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti:

  • tahlilan,
  • doa bersama,
  • haul ulama,
  • ziarah kubur,
  • maupun majelis dzikir.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, jamaah biasanya membaca Surah Al-Fatihah yang diniatkan sebagai hadiah pahala bagi para nabi, sahabat, ulama, guru, orang tua, keluarga, maupun kaum muslimin yang telah wafat.

Tradisi ini berkembang sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa agar pahala bacaan Al-Qur’an sampai kepada mereka sesuai keyakinan dan praktik yang dijelaskan dalam literatur fikih serta tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Mengandung Nilai Tauhid dan Penghambaan

Jika dipahami secara utuh, ungkapan Syaiun Lillah Lahumul Fatihah bukan sekadar kalimat pembuka dalam tahlilan, melainkan mengandung pesan spiritual yang mendalam.

Kalimat tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya selalu menggantungkan seluruh harapan kepada Allah SWT, meyakini bahwa hanya Dia yang memiliki kuasa memenuhi segala kebutuhan, serta menjadikan doa sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.

Dengan demikian, berdasarkan penjelasan para ulama, ungkapan Syaiun Lillah Lahumul Fatihah merupakan ekspresi tauhid yang menegaskan bahwa seluruh pertolongan, harapan, dan pengabulan doa hanya berasal dari Allah SWT, sementara bacaan Surah Al-Fatihah yang dihadiahkan menjadi bentuk doa dan penghormatan kepada orang-orang yang menjadi tujuan tawasul.

Sebelumnya

Cara Membuat QRIS untuk Usaha dengan Mudah, Lengkap Syarat, Tahapan, dan Tips agar Transaksi Makin Praktis

Selanjutnya

Pengertian Maslahah dalam Maqashid Syariah, Konsep Kemaslahatan sebagai Tujuan Utama Syariat Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Samudrapikiran.com