Mad Lazim: Pengertian, 4 Jenis, Hukum Bacaan, dan Contohnya dalam Alquran


Samudrapikiran.com – Mad lazim merupakan salah satu hukum bacaan mad dalam ilmu tajwid yang memiliki ketentuan panjang bacaan secara tetap, yakni enam harakat atau tiga alif. Hukum bacaan ini terbagi menjadi empat jenis, yaitu mad lazim kilmi mutsaqqal, mad lazim kilmi mukhaffaf, mad lazim harfi mutsaqqal, dan mad lazim harfi mukhaffaf.
Membaca Alquran tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali huruf hijaiyah dan harakat. Setiap Muslim juga dianjurkan memahami kaidah tajwid agar pelafalan ayat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Salah satu hukum tajwid yang perlu dipahami adalah mad lazim.
Secara sederhana, mad lazim merupakan bacaan mad yang terjadi ketika huruf mad bertemu dengan keadaan tertentu yang menyebabkan bacaan harus dipanjangkan. Disebut lazim karena panjang bacaannya bersifat tetap dan tidak berubah-ubah.
Keempat jenis mad lazim memiliki kesamaan dalam hal panjang bacaan. Perbedaannya terletak pada lokasi terjadinya hukum tersebut serta kondisi huruf yang mengikuti huruf mad.
Apa Itu Mad Lazim?
Mad lazim adalah salah satu hukum bacaan mad dalam ilmu tajwid. Hukum ini terjadi ketika huruf mad bertemu dengan sukun asli atau keadaan tertentu yang berkaitan dengan tasydid, baik dalam sebuah kata maupun pada huruf pembuka surah.
Kata mad secara umum berkaitan dengan memanjangkan suara ketika membaca huruf tertentu. Sementara itu, istilah lazim menunjukkan bahwa panjang bacaan tersebut merupakan ketentuan yang harus dipenuhi.
Karena itu, mad lazim mempunyai aturan panjang yang lebih tegas dibandingkan beberapa hukum mad lainnya. Setiap mad lazim dibaca sepanjang enam harakat atau tiga alif.
Meski memiliki panjang bacaan yang sama, mad lazim kemudian dibedakan berdasarkan dua hal utama, yakni apakah hukum tersebut terjadi dalam kata atau pada huruf pembuka surah, serta apakah terdapat tasydid atau idgham setelahnya.
Empat Macam Mad Lazim dalam Alquran
Dalam ilmu tajwid, mad lazim terbagi menjadi empat kelompok. Pembagian tersebut meliputi Mad Lazim Kilmi Mutsaqqal, Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf, Mad Lazim Harfi Mutsaqqal, dan Mad Lazim Harfi Mukhaffaf.
Masing-masing mempunyai karakteristik dan contoh yang berbeda dalam Alquran.
1. Mad Lazim Kilmi Mutsaqqal
Mad Lazim Kilmi Mutsaqqal atau Mutsaqqal Kilmi terjadi ketika huruf mad bertemu dengan huruf yang bertasydid dalam satu kata.
Istilah kilmi merujuk pada kata, sedangkan mutsaqqal berarti diberatkan. Penyebutan tersebut berkaitan dengan cara pelafalannya yang terasa lebih berat karena setelah huruf mad terdapat huruf bertasydid.
Dalam membacanya, suara pada huruf mad dipanjangkan terlebih dahulu selama enam harakat, kemudian dilanjutkan dengan huruf yang memiliki tasydid.
Beberapa contoh Mad Lazim Kilmi Mutsaqqal dapat ditemukan dalam sejumlah ayat Alquran, antara lain:
- Surat Al-Fatihah ayat 7: وَلَا الضَّالِّيْنَ (wa lad-dallin)
- Surat Al-Baqarah ayat 76: لِيُحَاۤجُّوْكُمْ (liyuhajjukum)
- Surat Al-Baqarah ayat 139: قُلْ اَتُحَاۤجُّوْنَنَا (qul atuhajjunana)
Keberadaan tasydid setelah huruf mad menjadi ciri utama yang membedakannya dari jenis mad lazim lainnya.
2. Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf
Jenis kedua adalah Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf. Hukum bacaan ini masih terjadi dalam sebuah kata, tetapi memiliki karakter berbeda dari Mad Lazim Kilmi Mutsaqqal.
Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf terjadi ketika huruf mad bertemu dengan huruf yang memiliki sukun asli dalam satu kata dan tidak disertai idgham atau tasydid.
Istilah mukhaffaf memiliki makna diringankan. Oleh karena itu, pelafalan mad ini tetap dilakukan sepanjang enam harakat, tetapi tidak disertai tekanan suara sebagaimana yang terdapat pada kelompok mutsaqqal.
Menariknya, hukum bacaan ini termasuk sangat jarang ditemukan dalam Alquran. Contoh lafaz yang dikenal untuk Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf adalah آلآن (aal-ana), yang memiliki makna “apakah baru sekarang”.
Lafaz tersebut terdapat pada dua tempat dalam Surat Yunus, yakni ayat 51 dan ayat 91.
Kelangkaan contoh tersebut membuat Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf menjadi salah satu hukum tajwid yang cukup menarik untuk dipelajari secara lebih mendalam.
3. Mad Lazim Harfi Mutsaqqal
Berbeda dari dua jenis sebelumnya, Mad Lazim Harfi Mutsaqqal tidak terdapat dalam sebuah kata biasa. Hukum ini berkaitan dengan huruf-huruf yang menjadi pembuka sejumlah surah Alquran atau dikenal dengan istilah fawatihus suwar.
Kata harfi menunjukkan bahwa hukum tersebut berkaitan dengan huruf, sedangkan mutsaqqal berarti diberatkan.
Kesan berat dalam pelafalannya berkaitan dengan adanya pertemuan suara yang menyebabkan proses idgham atau peleburan suara.
Salah satu contoh dapat ditemukan pada pembukaan Surat Asy-Syu’ara ayat 1, yaitu:
طٰسٓمّٓ (thaa-siin-miim)
Contoh lainnya terdapat pada pembukaan Surat Al-Baqarah ayat 1:
الم (alif-laam-miim)
Untuk memahami jenis mad ini dengan tepat, pembaca perlu memperhatikan cara membaca huruf-huruf pembuka surah, karena kaidahnya berbeda dari mad yang terjadi pada kata biasa.
4. Mad Lazim Harfi Mukhaffaf
Jenis terakhir adalah Mad Lazim Harfi Mukhaffaf. Sama seperti Mad Lazim Harfi Mutsaqqal, hukum bacaan ini ditemukan pada huruf-huruf pembuka surah.
Perbedaannya terletak pada kondisi setelah huruf mad. Dalam Mad Lazim Harfi Mukhaffaf, tidak terdapat huruf bertasydid dan tidak terjadi idgham. Karena itu, pelafalannya memiliki karakter yang lebih ringan dibandingkan kelompok mutsaqqal.
Contohnya dapat ditemukan dalam beberapa pembukaan surah, antara lain:
- Surat Yasin ayat 1: يٰسۤ (Yaa-Siin)
- Surat An-Naml ayat 1: طٰسۤ (Thaa-Siin)
Meskipun tergolong mukhaffaf atau ringan, panjang bacaannya tetap mengikuti ketentuan mad lazim, yaitu enam harakat.
Panjang Bacaan Mad Lazim
Salah satu ketentuan terpenting dalam memahami mad lazim adalah panjang bacaannya. Semua jenis mad lazim, baik kilmi maupun harfi, mutsaqqal maupun mukhaffaf, dibaca sepanjang enam harakat atau tiga alif.
Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan panjang bacaan di antara keempat jenis tersebut.
Perbedaannya justru terletak pada tempat dan kondisi terjadinya hukum bacaan. Mad lazim kilmi berkaitan dengan kata, sedangkan mad lazim harfi berkaitan dengan huruf-huruf pembuka surah.
Sementara itu, istilah mutsaqqal menunjukkan adanya unsur yang membuat bacaan terasa lebih berat, seperti tasydid atau idgham. Adapun mukhaffaf menunjukkan kondisi yang lebih ringan karena tidak disertai tasydid atau idgham.
Cara Mudah Membedakan Empat Jenis Mad Lazim
Untuk memudahkan pembelajaran, pembagian mad lazim dapat dipahami melalui dua pertanyaan sederhana.
Pertama, di mana hukum tersebut terjadi? Jika terjadi pada sebuah kata, maka termasuk kelompok kilmi. Jika terjadi pada huruf pembuka surah, maka termasuk kelompok harfi.
Kedua, bagaimana kondisi setelah huruf mad? Jika terdapat tasydid atau proses idgham yang membuat bacaan menjadi lebih berat, maka termasuk kelompok mutsaqqal. Sebaliknya, jika tidak terdapat tasydid atau idgham sehingga bacaannya lebih ringan, maka termasuk mukhaffaf.
Dari pola tersebut, pembagiannya dapat diringkas sebagai berikut:
| Jenis | Tempat Terjadi | Karakter | Panjang |
|---|---|---|---|
| Mad Lazim Kilmi Mutsaqqal | Dalam kata | Disertai tasydid | 6 harakat |
| Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf | Dalam kata | Tanpa idgham/tasydid | 6 harakat |
| Mad Lazim Harfi Mutsaqqal | Huruf pembuka surah | Disertai idgham | 6 harakat |
| Mad Lazim Harfi Mukhaffaf | Huruf pembuka surah | Tanpa idgham/tasydid | 6 harakat |
Pentingnya Memahami Mad Lazim dalam Membaca Alquran
Pemahaman terhadap mad lazim membantu pembaca menjaga ketepatan panjang pendek bacaan Alquran. Dalam ilmu tajwid, panjang bacaan bukan sekadar persoalan irama, tetapi merupakan bagian dari kaidah pelafalan yang perlu diperhatikan.
Dengan mengenali ciri setiap jenis mad lazim, pembaca dapat mengetahui kapan suara harus dipanjangkan dan bagaimana karakter pelafalannya.
Pembelajaran sebaiknya dilakukan secara bertahap. Setelah memahami definisi dan pembagian, pembaca dapat berlatih melalui contoh-contoh ayat dengan bimbingan guru atau ustaz yang memahami ilmu tajwid.
Pada akhirnya, Mad Lazim memiliki empat macam hukum bacaan, yaitu Mad Lazim Kilmi Mutsaqqal, Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf, Mad Lazim Harfi Mutsaqqal, dan Mad Lazim Harfi Mukhaffaf. Keempatnya sama-sama dibaca sepanjang enam harakat atau tiga alif, tetapi memiliki perbedaan berdasarkan tempat dan kondisi huruf yang mengikutinya.
Memahami perbedaan tersebut akan membuat proses belajar tajwid menjadi lebih sistematis sekaligus membantu pembaca menerapkan kaidah bacaan Alquran dengan lebih tepat.










