Kisah Allah Mencabut Lidah Ikan, Riwayat tentang Hasutan Iblis dan Pelajaran bagi Umat Islam


Samudrapikiran.com – Kisah tentang Allah mencabut lidah ikan merupakan salah satu cerita yang berkembang dalam sejumlah riwayat dan penuturan keislaman. Cerita tersebut dikaitkan dengan masa setelah penciptaan Nabi Adam AS, ketika Iblis mulai menunjukkan permusuhannya terhadap manusia.
Dalam kisah yang beredar, ikan disebut sebagai salah satu makhluk pertama yang menerima hasutan Iblis. Fitnah yang disampaikan kemudian diteruskan kepada makhluk laut lainnya hingga akhirnya mendapat hukuman berupa dicabutnya lidah ikan.
Cerita tersebut memang menarik untuk dikaji. Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan sejak awal. Riwayat mengenai pencabutan lidah ikan ini tidak dapat disamakan dengan kisah yang secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an. Karena itu, pembahasannya lebih tepat ditempatkan sebagai riwayat atau kisah yang berkembang dalam literatur dan penuturan keislaman, bukan sebagai fakta akidah yang wajib diyakini.
Terlepas dari status riwayatnya, cerita tersebut mengandung sejumlah pesan moral yang relevan untuk direnungkan. Di antaranya adalah bahaya kesombongan, pentingnya menyaring informasi, serta larangan menyebarkan berita yang belum diketahui kebenarannya.
Awal Mula Kisah Allah Mencabut Lidah Ikan
Untuk memahami latar belakang cerita tersebut, kisahnya dikaitkan dengan peristiwa penciptaan Nabi Adam AS.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Para malaikat menjalankan perintah tersebut, sedangkan Iblis menolak dan menunjukkan kesombongannya.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 34:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Ayat tersebut menggambarkan sikap Iblis yang menolak perintah Allah. Dalam penjelasan para ulama, penolakan itu berakar dari kesombongan karena Iblis merasa dirinya lebih mulia daripada Adam.
Iblis berasal dari golongan jin dan diciptakan dari api. Sementara Adam diciptakan dari tanah. Perbedaan asal penciptaan tersebut dijadikan Iblis sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.
Padahal, sujud yang diperintahkan kepada para malaikat dan Iblis dalam konteks tersebut bukanlah sujud penyembahan kepada Adam. Perintah tersebut merupakan bentuk penghormatan yang Allah berikan kepada Adam sekaligus bentuk kepatuhan kepada perintah-Nya.
Sikap membangkang Iblis kemudian menjadi bagian penting dalam kisah permusuhannya terhadap manusia. Sejak saat itu, Iblis berusaha menyesatkan manusia dan mengarahkan mereka kepada jalan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah SWT.
Riwayat Iblis Turun ke Bumi dan Menuju Laut
Dalam versi kisah yang berkembang mengenai lidah ikan, setelah terusir dari surga, Iblis kemudian turun ke bumi. Dalam penuturan tersebut, Iblis digambarkan mendatangi lautan dan bertemu dengan seekor ikan.
Pertemuan itu kemudian menjadi awal munculnya hasutan.
Iblis disebut menyampaikan informasi yang menggambarkan Nabi Adam sebagai ancaman bagi kehidupan hewan, baik yang berada di darat maupun di laut. Perkataan tersebut digambarkan sebagai bentuk kebohongan dan fitnah yang sengaja disampaikan untuk menimbulkan ketakutan terhadap Adam.
Ikan yang menerima informasi tersebut kemudian dipercaya terpengaruh oleh perkataan Iblis.
Dalam kisah yang beredar, ikan itu selanjutnya menyampaikan informasi tersebut kepada makhluk-makhluk laut lainnya. Kabar yang bermula dari hasutan kemudian menyebar di antara penghuni lautan.
Cerita inilah yang kemudian dikaitkan dengan hukuman Allah SWT berupa dicabutnya lidah ikan.
Mengapa Lidah Ikan Disebut Dicabut?
Menurut kisah tersebut, Allah SWT tidak menyukai tindakan menyebarkan berita bohong yang berasal dari hasutan Iblis. Karena itu, ikan disebut mendapat hukuman dengan dicabutnya lidah.
Dari cerita tersebut kemudian berkembang anggapan bahwa ikan tidak memiliki lidah seperti manusia atau sebagian hewan lainnya.
Namun, dari sudut pandang anatomi, struktur rongga mulut ikan tidak sesederhana anggapan bahwa ikan sama sekali tidak memiliki struktur yang menyerupai lidah.
Pada sebagian besar ikan terdapat struktur bernama basihyal, yaitu bagian jaringan yang berada di dasar rongga mulut dan dapat menyerupai lidah. Struktur tersebut tidak bergerak bebas seperti lidah manusia, tetapi dapat berperan dalam proses makan dan membantu mengatur makanan di dalam rongga mulut.
Dengan demikian, pembahasan mengenai anatomi ikan perlu dibedakan dari cerita keagamaan yang berkembang. Keduanya berada dalam konteks pembahasan yang berbeda dan tidak seharusnya digunakan untuk saling menguatkan tanpa dasar ilmiah maupun dalil yang jelas.
Kisah Ini Mengajarkan Bahaya Hasutan
Salah satu pesan moral yang dapat direnungkan dari kisah tersebut adalah bahaya menerima informasi tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Dalam cerita, ikan menerima perkataan Iblis dan kemudian meneruskannya kepada pihak lain. Informasi yang pada awalnya belum terbukti berubah menjadi kabar yang dipercaya dan menyebar lebih luas.
Pola seperti itu sangat dekat dengan kehidupan manusia saat ini.
Perbedaannya, masyarakat modern memiliki media sosial, aplikasi percakapan, forum daring, dan berbagai platform digital yang memungkinkan sebuah informasi menyebar hanya dalam hitungan detik.
Satu informasi yang belum terverifikasi dapat diteruskan kepada puluhan bahkan ribuan orang. Jika ternyata informasi tersebut salah, dampaknya juga dapat menjadi jauh lebih besar.
Karena itu, semangat yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah pentingnya tabayun, yakni memeriksa dan memastikan kebenaran suatu berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Kesombongan Iblis Menjadi Peringatan bagi Manusia
Selain tentang bahaya fitnah, latar belakang kisah tersebut juga mengingatkan manusia terhadap sifat sombong.
Iblis menolak perintah Allah karena menganggap dirinya lebih tinggi daripada Adam. Ia melihat asal penciptaan sebagai ukuran kemuliaan.
Padahal, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usul, bentuk fisik, kekayaan, kedudukan, maupun kelebihan tertentu. Kesombongan justru dapat membuat seseorang menolak kebenaran meskipun kebenaran tersebut telah jelas di hadapannya.
Kisah Iblis menjadi salah satu pengingat penting bahwa pengetahuan atau kelebihan yang dimiliki manusia seharusnya tidak menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Hikmah yang Dapat Diambil
Jika ditempatkan sebagai kisah penuh pelajaran moral, cerita tersebut setidaknya dapat menjadi bahan renungan mengenai beberapa hal.
Pertama, manusia harus menjauhi kesombongan. Kelebihan yang dimiliki seseorang seharusnya menjadi alasan untuk bersyukur, bukan merendahkan orang lain.
Kedua, informasi harus diperiksa sebelum dipercaya dan disebarkan. Jangan sampai seseorang menjadi penyampai berita yang tidak benar hanya karena tidak melakukan tabayun.
Ketiga, hasutan perlu dihadapi dengan kewaspadaan. Perkataan yang mendorong kebencian atau permusuhan tidak seharusnya diterima begitu saja.
Keempat, umat Islam perlu membedakan antara kisah yang memiliki dasar kuat dengan cerita yang hanya berkembang dalam penuturan masyarakat.









