Kaana Wa Akhwatuha dalam Ilmu Nahwu
Samudrapikiran.com – Dalam kajian ilmu nahwu, Kaana Wa Akhwatuha (كان وأخواتها) merupakan kelompok fi’il yang memiliki peran penting dalam pembentukan struktur kalimat bahasa Arab. Kelompok fi’il ini dikenal sebagai amil yang memengaruhi kedudukan mubtada dan khabar dalam jumlah ismiyah.
Fungsi Kaana Wa Akhwatuha
Kaana berfungsi merafa’kan mubtada sebagai isimnya dan menashabkan khabar. Dengan kata lain, mubtada berubah status menjadi isim kaana, sementara khabar menjadi khabar kaana yang dibaca manshub.
Contoh penerapan:
كَانَ عُمَرُ سَيِّدًا
(Umar adalah seorang pemimpin)
Pada contoh tersebut, ‘Umaru sebagai isim kaana dibaca rafa’, sedangkan sayyidan sebagai khabarnya dibaca nashab.
Daftar Fi’il yang Termasuk Saudara Kaana
Fi’il yang bekerja seperti kaana antara lain:
- ظَلَّ (Zhalla): menunjukkan keadaan di siang hari
- بَاتَ (Baata): menunjukkan keadaan di malam hari
- أَصْبَحَ (Ashbaha): menunjukkan keadaan pagi
- أَضْحَى (Adh-ha): menunjukkan keadaan waktu dhuha
- أَمْسَى (Amsaa): menunjukkan keadaan sore
- صَارَ (Shaara): bermakna menjadi
- لَيْسَ (Laisa): bermakna tidak
Semua fi’il tersebut merafa’kan isim dan menashabkan khabarnya sebagaimana kaana.
Fi’il yang Harus Didahului Nafi
Beberapa saudara kaana seperti:
- زَالَ (Zaala)
- بَرِحَ (Bariha)
- فَتِئَ (Fati’a)
- اِنْفَكَّ (Infakka)
harus digunakan bersama unsur nafi (peniadaan) atau bentuk yang menyerupainya. Tanpa nafi, fi’il ini tidak berfungsi sebagai amil kaana.
Daama dan Syarat Penggunaannya
Fi’il دَامَ (Daama) juga beramal seperti kaana, namun dengan syarat didahului oleh “maa” mashdariyah-zharfiyah.
Contoh:
أَعْطِهِ مَا دُمْتَ مُصِيبًا دِرْهَمًا
(Berilah dia uang selama kamu mampu)
Penggunaan Selain Fi’il Madhi
Tidak hanya dalam bentuk fi’il madhi, kaana dan saudara-saudaranya tetap beramal apabila digunakan dalam bentuk mudhari’ atau amar, selama masih memenuhi kaidah penggunaannya.
Kedudukan Khabar dalam Kalimat
Pada dasarnya, khabar boleh berada di tengah antara amil dan isimnya pada semua kaana dan saudaranya. Namun terdapat pengecualian, yaitu:
- Daama: khabarnya tidak boleh didahulukan
- Laisa: pendapat terpilih melarang mendahulukan khabarnya
- Maa nafi: khabar tidak boleh mendahului maa nafi
Kaana Tam dan Kaana Naqish
Saudara kaana dibagi menjadi dua:
- Kaana Tam (sempurna)
Yaitu fi’il yang cukup dengan isimnya saja dan tidak memerlukan khabar. - Kaana Naqish (tidak sempurna)
Yaitu fi’il yang membutuhkan isim dan khabar sekaligus.
Fi’il seperti fati’a, laisa, dan zaala secara konsisten tergolong naqish.
Larangan Ma’mul Khabar Mengiringi Amil
Ma’mul dari khabar tidak boleh langsung mengikuti amil kaana, kecuali apabila ma’mul tersebut berupa:
- Zharaf (keterangan waktu/tempat)
- Jar dan majrur
Dhomir Sya’n sebagai Isim Kaana
Dalam kondisi tertentu, dhamir sya’n dapat diperkirakan sebagai isim kaana, khususnya apabila struktur kalimat menimbulkan kesan pelanggaran kaidah yang telah disebutkan sebelumnya.
Kaana Zaidah dalam Kalimat
Terkadang kaana hadir hanya sebagai tambahan (zaidah) tanpa berfungsi sebagai amil, biasanya berada di antara dua kata yang saling berkaitan.
Contoh:
مَا كَانَ أَصَحَّ عِلْمَ مَنْ تَقَدَّمَا
(Alangkah benarnya ilmu orang-orang terdahulu)
Penghapusan Kaana dalam Struktur Kalimat
Dalam praktik bahasa Arab, kaana beserta isimnya terkadang dihilangkan, sementara khabarnya tetap ada. Hal ini sering dijumpai setelah:
- In syarthiyah
- Lau syarthiyah
Pergantian Kaana dengan “An Masdariyah”
Setelah huruf أنْ (an masdariyah), posisi kaana dapat digantikan oleh unsur lain.
Contoh:
أَمَّا أَنْتَ بَرًّا فَاقْتَرِبْ
(Jadilah engkau orang baik, lalu mendekatlah)
Kaidah Fi’il Mudhari’ Kaana yang Dijazmkan
Apabila fi’il mudhari’ kaana dijazmkan, seperti يَكُنْ (yakun), maka huruf nun boleh dihapus. Penghapusan ini bersifat opsional dan tidak wajib.
Penutup
Pembahasan Kana dan saudara-saudaranya menunjukkan betapa detailnya ilmu nahwu dalam mengatur struktur kalimat bahasa Arab. Dengan memahami fungsi, syarat, serta pengecualiannya, pembelajar bahasa Arab akan lebih mudah mengenali perubahan i‘rab dan makna dalam teks Arab, baik klasik maupun kontemporer.












