Fiil ma’lum dan fiil majhul merupakan jenis fiil yang dilihat dari segi kejelasan fail. Dua fiil tersebut merupakan kata lain dari kalimat aktif dan kalimat pasif dalam Bahasa Indonesia.

Secara sederhana, perhatikan contoh kalimat berikut:

  • Zaid membaca buku, merupakan kalimat aktif.
  • Buku dibaca oleh Zahid, merupakan kalimat pasif.

Apakah sudah terlihat perbedaannya? Yang paling menonjol adalah letak atau kejelasan pelaku dari suatu pekerjaan. Lantas, bagaimana penerapannya dalam ilmu Nahwu dan Bahasa Arab? Apakah sama persis dengan Bahasa Indonesia? Yuk, simak penjelasan mengenai fiil ma’lum dan fiil majhul berikut!

Pengertian Fiil Ma’lum dan Fiil Majhul

Fi’il Ma’lum

Secara lughowi, arti ma’lum adalah diketahui. Maksudnya, yang diketahui adalah pelakunya (fail). Maka, pengertian fiil ma’lum yakni fiil yang mana pelaku (fail) dalam kalimah sudah jelas.

Adakalanya, fiil ma’lum tidak menyertakan fail. Dengan catatan, fail tersebut sudah diketahui di kalimah sebelumnya. Biasanya, fail tersebut berupa dhomir mustatir (tersembunyi).

فَتَحَ زَيْدٌ البَابَ

Fiil dari kalimat di atas adalah فَتَحَ, yang merupakan fiil ma’lum. Failnya sudah ada dan sangat jelas, yaitu lafadz زَيْدٌ. Artinya adalah Zaid membuka pintu.

Fiil Majhul

Majhul kebalikan dari ma’lum. Majhul secara bahasa berarti tidak diketahui. Artinya, fiil majhul tidak diketahui atau disembunyikan pelakunya (fail).

Ada beberapa sebab kenapa faiil dallam fiil majhul disembunyikan. Di antaranya adalah pendengar sudah paham fail (siapa pelakunya), pendengar tidak tahu fail (pelakunya), takut atau tidak ingin menyebutkan fail, dan lainnya.

Lalu, apa yang menempati posisi fail? Tentu saja maf’ul (objek.) Sehingga, maf’ul bih ini sering disebut sebagai naibul fail (pengganti fail). Dalam susunan majhul, maf’ul dikenai pekerjaan. Maf’ul harus menjadi marfu’ karena menggantikan fail yang tersembunyi.

Baca Juga :  Yuk Belajar Nahwu Mulai dari Isim Mufrad Dulu!

Perubahan Fiil Ma’lum dan Fiil Majhul

Untuk merubah fiil ma’lum menjadi fiil majhul tidak selalu sama polanya. Hal ini tergantung bentuk fiilnya, apakah madhi atau mudhori’. Lalu, apa perbedaannya? Berikut uraiannya:

Fiil Majhul ketika Madhi

Pola majhul untuk kalimah fiil madhi adalah memberi harokat dhommah pada huruf awal dan kasroh pada huruf sebelum akhir. Contoh: كَتَبَ (membaca) menjadi كُتِبَ (dibaca). Contoh lainnya adalah:

ضَرَبَ (memukul) menjadi ضُرِبَ (dipukul)
فَتَحَ (membuka) menjadi فُتِحَ (dibuka)
اسْتَغْفَرَ (meminta ampun) menjadi اُسْتُغْفَِرَ (dimintai ampun)
اسْتَعْمَلَ (memakai) menjadi اُسْتُعْمِلَ (dipakai)
أَحَبَّ (mencintai) menjadi أُحِبَّ (dicintai)

Fiil Majhul ketika Mudhori’

Pola Majhul saat berupa fiil mudhori’ tentu berbeda dengan fiil madhi. Untuk huruf awal memang sama-sama berharokat dhommah. Namun, huruf akhirnya berharokat fathah. Bagaimana contohnya? Di antaranya adalah:

يَكْتُبُ (menulis) menjadi يُكْتَبُ (ditulis)
يَضْرِبُ (memukul) menjadi يُضْرَبُ (dipukul)
يَفْتَحُ (membuka) menjadi يُفْتَحُ (dibuka)
يَسْتَغْفِرُ (meninta ampun) menjadi يُسْتَغْفَرُ (dimintai ampun)
يَسْتَعْمِلُ (memakai) menjadi يُسْتَعْمَلُ (dipakai)
يُحِبُّ (mencintai) menjadi يُحَبُّ (dicintai)

Merubah Fiil Ma’lum ke Fiil Majhul Ketika Ada Huruf Illah

Fiil Madhi

Fiil ma’lum dan fiil majhul juga bisa kemasukan huruf illah. Bagaimana cara me-majhul-kan fiil ma’lum yang berupa madhi yang terdapat huruf illah? Jika berupa fiil madhi (khususnya berakhiran alif), maka alif tersebut harus diganti dengan ya’ (ي). Selanjutnya, huruf sebelum alif yang berharakat fathah diganti kasroh. Contoh:

Baca Juga :  Mengenal Jumlah Mufidah dan Contohnya

قَالَ (berkata) menjadi قِيْلَ (dikatakan)
زَادَ (bertambah) menjadi زِيْدَ (ditambah)

Fiil Mudhori’

Ketika mudhori’, huruf illahnya berubah menjadi alif, huruf pertama harus berharakat dhommah, dan sebelum alif harus berharakat fathah. Berikut contohnya:

يَقُوْلُ (berkata) menjadi يُقَالُ (dikatakan)
يَقُوْمُ (berdiri) menjadi يُقَامُ (diberdirikan)

Terdiri atas Tujuh Huruf

Ketika madhi dan hurufnya berjumlah tujuh, maka cara me-majhul-kannya adalah:

  • Mengganti alif dengan ya’
  • Harakat huruf sebelum ya’ berupa kasroh
  • Harakat hamzah serta huruf ketiganya berupa dhommah.Contoh:
    اِسْتَمَاحَ (meminta maaf) menjadi أُسْتُمِيْحَ (dimintai maaf)
    Bagaimana jika berupa fiil mudhori’? Maka, caranya adalah:
  • Mengganti huruf ya dengan alif
  • Memberi harakat fathah pada huruf sebelum alif dan dhommah pada huruf awal
    Contoh:
    يَسْتَمِيْحُ (meminta maaf) menjadi يُسْتَمَاحُ (dimintai maaf)

Ketika Fiil Tsulasi Ajwaf

Ma’lum bisa berupa fiil tsulasi ajwaf yang disertai dhomir muttasil rofa’. Cara menjadikannya majhul yaitu dengan mengubah harakat huruf awal menjadi kasroh. Contoh:

قُلْتُ menjadi قِلْتُ

Jika ketika ma’lum sudah berharakat kasroh di awal, maka tinggal menggantinya dengan dhommah. Contoh:

بِعْتُ menjadi بُعْتُ

Itulah pengertian serta cara merubah fiil ma’lum dan fiil majhul. Semoga bermanfaat.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *