Fakta Bulan Safar dalam Islam, Meluruskan Mitos Kesialan dan Memahami Tradisi Rabu Wekasan


Samudrapikiran.com – Bulan Safar sering kali dikaitkan dengan berbagai mitos di tengah masyarakat. Sebagian orang meyakini bulan kedua dalam kalender Hijriah ini sebagai masa yang identik dengan musibah, penyakit, hingga berbagai bentuk kesialan. Tidak sedikit pula yang menghubungkannya dengan tradisi Rabu Wekasan, yaitu keyakinan bahwa Rabu terakhir di bulan Safar merupakan hari paling sial dalam setahun.
Padahal, dalam ajaran Islam, berbagai anggapan tersebut telah mendapatkan penjelasan melalui hadis Nabi Muhammad SAW maupun pandangan para ulama. Salah satu karya yang mengulas persoalan ini adalah Mandzumah Syarh Atsar Fi Ma Waroda ‘An Syahr Shofar karya Habib Abu Bakar Al-Adni, yang menjelaskan berbagai kepercayaan masyarakat Arab pada masa jahiliyah beserta penjelasan syariat Islam dalam menyikapinya.
Berikut sejumlah fakta penting mengenai bulan Safar yang perlu dipahami agar tidak terjebak pada keyakinan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Anggapan Safar Sebagai Bulan Sial Berasal dari Tradisi Jahiliyah
Sebelum datangnya Islam, sebagian masyarakat Arab menganggap bulan Safar sebagai bulan yang dipenuhi fitnah, bencana, dan kesialan. Bahkan, ada kelompok yang memperpanjang status bulan haram dari Muharram hingga memasuki Safar.
Keyakinan tersebut kemudian diluruskan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya:
لا صَفَرَ
“Tidak ada (kesialan pada) bulan Safar.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam menolak anggapan bahwa suatu bulan memiliki kekuatan membawa kesialan secara mutlak. Keyakinan semacam itu juga bertentangan dengan prinsip tauhid yang menegaskan bahwa seluruh ketentuan berada dalam kehendak Allah SWT.
Selain itu, persoalan perubahan aturan mengenai bulan haram juga dijelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 37.
Kepercayaan Tentang Penularan Penyakit dan Burung Hantu
Pada masa jahiliyah berkembang pula keyakinan mengenai Al-‘Adwa (العدوى), yaitu anggapan bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa campur tangan kehendak Allah SWT.
Di sisi lain, masyarakat saat itu juga mempercayai bahwa suara burung hantu pada malam hari merupakan jelmaan arwah orang yang telah meninggal dan sedang meminta pertolongan.
Rasulullah SAW menolak keyakinan tersebut sebagai bentuk kepercayaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini tidak berarti Islam mengabaikan sebab-akibat dalam penularan penyakit, melainkan menegaskan bahwa segala sesuatu tetap terjadi atas izin dan kehendak Allah SWT.
Tradisi Mencari Pertanda dari Burung
Masyarakat Arab dahulu juga mengenal praktik Al-‘Iyafah (العيافة), yaitu melepaskan burung kemudian mengamati arah terbangnya sebagai penentu baik atau buruknya suatu rencana.
Selain itu terdapat pula kepercayaan Ath-Thiyarah (الطيرة), yakni menganggap kemunculan burung tertentu, seperti gagak, sebagai pertanda datangnya bencana atau hukuman.
Islam menolak bentuk ramalan semacam ini karena dapat mengarah pada keyakinan yang bertentangan dengan prinsip tawakal kepada Allah SWT.
Kepercayaan Mengenai Al-Ghoul
Kepercayaan lain yang berkembang pada masa jahiliyah adalah adanya Al-Ghoul (الغول), yakni makhluk gaib yang dipercaya mampu menyesatkan orang yang sedang melakukan perjalanan.
Dalam perkembangan masyarakat modern, sebagian orang masih mengaitkan fenomena cahaya misterius atau api yang muncul lalu menghilang dengan gangguan makhluk halus.
Padahal, Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya agar tidak menggantungkan keyakinan kepada berbagai bentuk tahayul tersebut. Dalam kitab Kanzun Najah Was Surur disebutkan beberapa keyakinan yang ditolak, di antaranya:
- Al-‘Adwa (penularan yang diyakini mutlak tanpa kehendak Allah)
- Ath-Thiyarah (ramalan melalui burung)
- Al-Hamah
- Safar
- Al-Ghoul
- An-Nau’
Ramalan Berdasarkan Bintang Juga Ditolak
Kepercayaan An-Nau’ (النوء) juga termasuk tradisi yang berkembang di kalangan masyarakat Arab kuno.
Mereka meyakini bahwa 28 gugusan bintang tertentu memiliki pengaruh langsung terhadap turunnya hujan, arah angin, hingga berbagai peristiwa di bumi sehingga dijadikan dasar meramal masa depan.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya melalui hadis:
اخاف على أمتي الاستسقاء بالأنواء وخوف السلطان والتكذيب بالقدر
Hadis tersebut menjadi pengingat agar umat Islam tidak menggantungkan keyakinan kepada ramalan berdasarkan posisi bintang, melainkan tetap berpegang kepada ketentuan Allah SWT.
Memahami Tradisi Rabu Wekasan
Salah satu tradisi yang hingga kini masih dikenal di sejumlah daerah di Indonesia adalah Rabu Wekasan, yaitu keyakinan bahwa Rabu terakhir di bulan Safar merupakan hari paling sial.
Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan sebuah riwayat yang berbunyi:
آخر يوم الأربعاء آخر يوم نحس مستمر
Namun, ulama hadis Imam As-Sakhawi menjelaskan bahwa anggapan mengenai hari sial lebih dipengaruhi oleh persepsi psikologis maupun keyakinan ahli perbintangan, bukan berdasarkan ajaran Islam yang kuat.
Beliau menjelaskan:
كما يرون يوم النحس يوم الأربعاء من كل شهر وكذا باقي الصفر
وشرعنا مخالف لرأيهم وضابط للاعتقاد والفكر
Artinya:
“Sebagaimana mereka menganggap hari Rabu sebagai hari sial pada setiap bulan maupun sisa bulan Safar. Syariat kita berbeda dengan anggapan mereka, karena ukuran yang benar adalah keyakinan dan cara berpikir yang sesuai dengan ajaran Islam.”
Dengan demikian, seseorang yang bertawakal kepada Allah SWT tidak seharusnya merasa takut hanya karena memasuki hari tertentu di bulan Safar.
Bulan Safar Juga Menyimpan Peristiwa Penting dalam Sejarah Islam
Alih-alih dipandang sebagai bulan penuh kesialan, sejarah Islam justru mencatat sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada bulan Safar, di antaranya:
- Pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah RA.
- Pernikahan Sayyidah Fatimah RA dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
- Kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Abwa’.
- Kemenangan dalam Perang Khaibar.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa tidak ada dasar untuk menganggap bulan Safar sebagai waktu yang identik dengan musibah atau kesialan.
Menyikapi Pendapat Ulama Secara Bijak
Sebagian ulama memang menyebut adanya kemungkinan bala atau musibah pada waktu-waktu tertentu berdasarkan pengalaman, penelitian, atau hasil ijtihad mereka. Karena itu, tidak semestinya masyarakat tergesa-gesa menyalahkan pendapat tersebut.
Di sejumlah daerah, terdapat pula amalan yang dilakukan pada momentum Rabu Wekasan. Amalan tersebut dipahami sebagai bentuk ikhtiar memperbanyak doa, dzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sebagai keyakinan bahwa hari tersebut membawa kesialan secara mutlak.
Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu bait yang dikutip dalam kitab tersebut:
وأبطل المختار شؤما فاسدا
أسبابه الجهل متى الجهل ظهر
Artinya:
“Rasulullah SAW membatalkan keyakinan kesialan yang rusak, karena sumbernya berasal dari kebodohan yang tampak.”
Karena itu, memasuki bulan Safar semestinya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak doa, dzikir, dan tawakal kepada Allah SWT. Sikap tersebut lebih sejalan dengan ajaran Islam dibandingkan membiarkan diri dihantui rasa takut terhadap mitos atau keyakinan yang tidak memiliki dasar syariat yang kuat.











