Pembagian Bina Shahih dan Bina Mu’tal dalam Ilmu Sharaf, Lengkap dengan Pengertian dan Contohnya


Samudrapikiran.com – Dalam kajian ilmu sharaf, pembahasan mengenai bina (البِنَاء) menjadi salah satu materi dasar yang harus dipahami sebelum mempelajari perubahan bentuk kata (tashrif). Melalui konsep bina, seorang pelajar dapat mengetahui karakter dasar sebuah kata kerja (fi’il) berdasarkan susunan huruf aslinya, sehingga lebih mudah memahami berbagai perubahan bentuk yang terjadi dalam bahasa Arab.
Salah satu pembahasan penting dalam bina adalah pembagian bina shahih dan bina mu’tal. Keduanya dibedakan berdasarkan jenis huruf penyusun akar kata (huruf asal), apakah seluruhnya terdiri atas huruf sahih atau terdapat huruf illat di dalamnya.
Pengertian Bina dalam Ilmu Sharaf
Dalam kitab Ar-Risalah at-Taṣrifiyyah, bina dijelaskan sebagai bentuk kata yang ditinjau dari dua aspek utama, yaitu:
- susunan huruf asal beserta tata letaknya;
- keadaan harakat dan sukun pada huruf-huruf penyusunnya.
Dengan memahami bina, seorang pelajar dapat mengenali karakter dasar suatu kata sebelum memasuki pembahasan perubahan bentuk kata kerja maupun kata benda dalam ilmu sharaf.
Pengertian Bina Shahih
Bina shahih adalah kata yang seluruh huruf asalnya terdiri dari huruf sahih, yaitu bukan termasuk huruf illat (و، ا، ي).
Contoh bina shahih antara lain:
- كَتَبَ (menulis)
- كَاتِبٌ (penulis)
Karena seluruh huruf asalnya bukan huruf illat, kedua contoh tersebut termasuk kelompok bina shahih.
Pembagian Bina Shahih
Para ulama ilmu sharaf membagi bina shahih menjadi tiga jenis, yaitu salim, mahmuz, dan mudha’af.
1. Bina Salim
Salim adalah fi’il yang seluruh huruf asalnya berupa huruf sahih, tidak mengandung:
- huruf illat,
- hamzah,
- maupun huruf yang mengalami penggandaan (tasydid).
Contohnya:
- كَتَبَ (menulis)
- ذَهَبَ (pergi)
- عَلِمَ (mengetahui)
Ketiga kata tersebut memiliki huruf asal yang seluruhnya merupakan huruf sahih tanpa hamzah maupun tasydid.
2. Bina Mahmuz
Mahmuz adalah fi’il yang salah satu huruf asalnya berupa hamzah (ء).
Contohnya:
- أَخَذَ (mengambil)
- سَأَلَ (bertanya)
- قَرَأَ (membaca)
Keberadaan huruf hamzah sebagai bagian dari huruf asal menjadikan fi’il tersebut termasuk bina mahmuz.
3. Bina Mudha’af
Mudha’af adalah fi’il yang memiliki huruf asal yang digandakan (tasydid).
Contohnya:
- مَدَّ (memanjangkan)
- دَمْدَمَ (menghancurkan secara berulang)
Pada jenis ini terdapat pengulangan huruf asal yang menjadi ciri khas bina mudha’af.
Pengertian Bina Mu’tal
Berbeda dengan bina shahih, bina mu’tal adalah kata yang salah satu huruf asalnya berupa huruf illat, yaitu:
- و (wawu)
- ا (alif)
- ي (ya’)
Contohnya:
- وَعَدَ (berjanji)
- قَالَ (berkata)
- رَمَى (melempar)
Ketiga kata tersebut termasuk bina mu’tal karena memiliki huruf illat sebagai salah satu unsur pembentuk akar katanya.
Pembagian Bina Mu’tal
Bina mu’tal dibagi menjadi empat kelompok utama, yakni mitsal, ajwaf, naqish, dan lafif.
1. Bina Mitsal
Mitsal adalah fi’il yang huruf pertama (fa’ fi’il) berupa huruf illat.
Contohnya:
- وَرِثَ (mewarisi)
- يَمَنَ
Pada kelompok ini, huruf illat berada di posisi awal akar kata.
2. Bina Ajwaf
Ajwaf adalah fi’il yang huruf kedua (‘ain fi’il) berupa huruf illat.
Contohnya:
- بَاعَ (menjual)
- قَالَ (berkata)
Huruf illat yang berada di tengah menjadi ciri utama bina ajwaf.
3. Bina Naqish
Naqish adalah fi’il yang huruf ketiga (lam fi’il) berupa huruf illat.
Contohnya:
- غَزَا (berperang)
- رَمَى (melempar)
Jenis ini banyak dijumpai pada fi’il yang berakhir dengan alif atau ya’.
4. Bina Lafif
Lafif adalah fi’il yang memiliki dua huruf illat dalam huruf asalnya.
Contohnya:
- نَوَى (berniat)
- وَقَى (melindungi)
Karena memiliki dua huruf illat, bina lafif masih dibagi lagi menjadi dua kategori.
Lafif Maqrun
Lafif maqrun adalah fi’il yang dua huruf illatnya berdampingan atau berkumpul.
Contohnya:
- طَوَى
- نَوَى
Lafif Mafruq
Lafif mafruq adalah fi’il yang dua huruf illatnya terpisah oleh huruf sahih.
Contohnya:
- وَفَى (menepati)
Pada jenis ini, huruf illat berada di posisi awal dan akhir akar kata.
Perbedaan Bina Shahih dan Bina Mu’tal
Secara umum, perbedaan keduanya terletak pada keberadaan huruf illat dalam akar kata.
| Bina Shahih | Bina Mu’tal |
|---|---|
| Seluruh huruf asal berupa huruf sahih | Salah satu atau lebih huruf asal berupa huruf illat |
| Terbagi menjadi salim, mahmuz, dan mudha’af | Terbagi menjadi mitsal, ajwaf, naqish, dan lafif |
| Perubahan tashrif relatif lebih sederhana | Memiliki perubahan tashrif yang lebih banyak karena pengaruh huruf illat |
Pentingnya Memahami Bina dalam Ilmu Sharaf
Pengelompokan bina bukan sekadar teori dasar dalam ilmu sharaf. Pemahaman mengenai bina sangat membantu pelajar dalam mengenali pola perubahan kata kerja bahasa Arab, terutama ketika mempelajari berbagai bentuk tashrif, isim fa’il, isim maf’ul, maupun bentuk-bentuk turunan lainnya.
Dengan mengetahui apakah suatu fi’il termasuk bina shahih atau bina mu’tal, seseorang akan lebih mudah memahami perubahan huruf, harakat, maupun kaidah-kaidah sharaf yang berlaku. Oleh karena itu, materi ini menjadi salah satu fondasi penting bagi siapa saja yang ingin mendalami tata bahasa Arab secara sistematis.











