Jahe Disebut sebagai Minuman Penghuni Surga, Ini Makna Surah Al-Insan Ayat 17 dan Manfaatnya
Samudrapikiran.com – Jahe selama ini dikenal sebagai tanaman rempah yang banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain menjadi bahan tambahan masakan, rimpang ini juga sering diolah menjadi minuman hangat karena memiliki aroma khas dan rasa yang sedikit pedas.
Namun, jahe ternyata tidak hanya dikenal karena kegunaannya di dunia. Tanaman ini juga disebut dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari gambaran kenikmatan minuman yang disediakan bagi penghuni surga. Keterangan tersebut terdapat dalam Surah Al-Insan ayat 17.
Jahe dalam Surah Al-Insan Ayat 17
Al-Qur’an menggambarkan surga sebagai tempat penuh kenikmatan yang disediakan Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Gambaran tersebut mencakup berbagai hidangan dan minuman yang memiliki keistimewaan tersendiri.
Salah satu keterangan mengenai minuman surga terdapat dalam Surah Al-Insan ayat 17. Dalam ayat tersebut, Allah SWT menyebut istilah zanjabil, yaitu jahe, sebagai salah satu campuran minuman yang diberikan kepada penghuni surga.
Ayat tersebut berbunyi:
Arab:
وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا
Latin:
Wa yusqauna fiihaa ka’san kaana mizaajuhaa zanjabiilaa.
Artinya:
“Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampur jahe.”
QS. Al-Insan: 17
Penyebutan zanjabil menunjukkan bahwa jahe menjadi bagian dari gambaran minuman yang dinikmati penghuni surga. Dalam ayat berikutnya, yakni Surah Al-Insan ayat 18, disebutkan pula nama mata air Salsabil.
Kedua ayat tersebut memberikan gambaran mengenai keistimewaan minuman yang disediakan di surga. Kenikmatan yang dijelaskan Al-Qur’an tentu tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan pengalaman manusia ketika menikmati minuman di dunia.
Penjelasan Tafsir Ibnu Katsir tentang Minuman Jahe
Dalam penjelasan Tafsir Ibnu Katsir, minuman bercampur jahe merupakan salah satu bentuk kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang bertakwa di surga.
Pembahasan tersebut juga berkaitan dengan penyebutan kafur dalam Surah Al-Insan ayat 5. Kafur dan jahe menggambarkan campuran minuman dengan karakter yang berbeda.
Kafur dikaitkan dengan sensasi sejuk, sedangkan jahe memberikan gambaran rasa hangat. Perbedaan tersebut memperlihatkan beragam kenikmatan minuman yang disediakan bagi penghuni surga.
Dengan demikian, penyebutan jahe dalam Al-Qur’an bukan sekadar memperkenalkan tanaman rempah yang dikenal manusia. Ayat tersebut menjadi bagian dari gambaran luas mengenai kenikmatan yang Allah SWT sediakan bagi hamba-hamba-Nya.
Kisah Rasulullah SAW Menerima Hadiah Jahe
Selain disebut dalam Al-Qur’an, jahe juga memiliki kisah yang dikaitkan dengan kehidupan Rasulullah SAW.
Dalam riwayat yang dicatat Abu Nu’aim dalam kitab Ath-Thibb an-Nabawi, disebutkan sebuah kisah mengenai hadiah jahe yang diterima Rasulullah SAW dari Raja Romawi. Riwayat tersebut bersumber dari Abu Sa’id Al-Khudri RA.
Dikisahkan bahwa Raja Romawi mengirimkan satu wadah berisi jahe kepada Rasulullah SAW. Beliau menerima hadiah tersebut, kemudian membagikan potongan jahe kepada orang-orang yang berada di sekitarnya.
Abu Sa’id Al-Khudri RA juga menyebutkan bahwa dirinya mendapatkan satu potong jahe dari pembagian tersebut.
Kisah ini menjadi salah satu riwayat yang dikenal dalam pembahasan pengobatan Nabi. Namun, riwayat tersebut perlu dipahami dengan memperhatikan penilaian kualitas dan derajat hadisnya. Penyebutan sebuah riwayat dalam kitab tertentu tidak serta-merta berarti seluruh ulama hadis menilainya sahih.
Memahami Jahe dari Perspektif Al-Qur’an dan Kesehatan
Penyebutan jahe dalam Surah Al-Insan ayat 17 memberikan gambaran mengenai salah satu kenikmatan yang Allah SWT sediakan bagi penghuni surga. Istilah zanjabil dalam ayat tersebut merujuk pada jahe yang digunakan sebagai campuran minuman.
Sementara itu, dari sisi kesehatan, jahe dikenal sebagai tanaman rempah dengan kandungan senyawa alami yang menarik untuk diteliti. Gingerol dan shogaol menjadi dua komponen yang banyak dikaji karena aktivitas antioksidan dan antiperadangannya.
Kedua perspektif tersebut perlu dipahami secara proporsional. Penjelasan Al-Qur’an berkaitan dengan gambaran kenikmatan surga, sedangkan penelitian kesehatan membahas potensi kandungan jahe berdasarkan bukti ilmiah.
Kandungan Senyawa Alami dalam Jahe
Di luar pembahasan keagamaan, jahe juga banyak dipelajari karena memiliki kandungan senyawa bioaktif. Dua senyawa yang sering menjadi perhatian dalam penelitian adalah gingerol dan shogaol.
Gingerol merupakan salah satu komponen utama pada jahe segar. Sementara itu, shogaol dapat terbentuk melalui proses pengolahan tertentu, terutama ketika jahe mengalami pemanasan atau pengeringan.
Kedua senyawa tersebut memiliki aktivitas biologis yang menarik untuk diteliti, termasuk aktivitas antioksidan dan antiperadangan.
Berbagai penelitian juga mengkaji potensi jahe dalam membantu mengatasi keluhan tertentu. Berikut beberapa manfaat yang banyak mendapat perhatian dalam kajian kesehatan.
1. Membantu Meredakan Mual dan Muntah
Salah satu manfaat jahe yang cukup banyak diteliti adalah kemampuannya membantu mengurangi mual dan muntah.
Kandungan gingerol dan shogaol diketahui dapat memengaruhi aktivitas saluran pencernaan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jahe berpotensi membantu meredakan mual, termasuk mual yang dialami selama kehamilan.
Jahe juga kerap digunakan secara tradisional untuk membantu mengatasi rasa tidak nyaman pada perut.
Salah satu cara sederhana untuk mengonsumsinya adalah dengan membuat minuman jahe hangat. Caranya sebagai berikut:
- Siapkan beberapa ruas jahe segar, kemudian cuci hingga bersih.
- Iris jahe menjadi bagian kecil.
- Seduh menggunakan air panas selama beberapa menit.
- Tambahkan sedikit madu apabila menginginkan rasa yang lebih manis.
- Minum setelah suhunya cukup nyaman.
Meski demikian, penggunaan jahe untuk mengatasi mual perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. Ibu hamil atau orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menggunakannya secara rutin.
2. Berpotensi Membantu Mengurangi Peradangan
Jahe juga memiliki kandungan senyawa yang menunjukkan aktivitas antiperadangan. Gingerol dan shogaol diketahui dapat memengaruhi sejumlah jalur biologis yang terlibat dalam proses peradangan tubuh.
Potensi tersebut membuat jahe banyak diteliti dalam kaitannya dengan gangguan persendian, termasuk osteoarthritis atau pengapuran sendi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi jahe dapat membantu mengurangi keluhan nyeri dan peradangan pada sebagian orang. Namun, jahe bukan pengganti pengobatan medis yang diperlukan untuk menangani penyakit persendian.
3. Mengandung Antioksidan untuk Melawan Radikal Bebas
Manfaat lainnya berkaitan dengan aktivitas antioksidan yang dimiliki jahe. Tanaman ini mengandung senyawa fenolik, termasuk gingerol dan shogaol, yang dapat membantu melawan radikal bebas.
Radikal bebas merupakan molekul yang dapat memicu kerusakan sel apabila jumlahnya berlebihan. Kondisi ketidakseimbangan antara radikal bebas dan kemampuan tubuh mengatasinya dikenal sebagai stres oksidatif.
Stres oksidatif menjadi salah satu faktor yang diteliti dalam kaitannya dengan proses penuaan dan perkembangan berbagai penyakit kronis.
Baca juga:












