Setiap tahun, siswa menengah atas (SMA/SMK/MA) pasti berbondong-bondong mengikuti SNBT (Seleksi Nasional Berbasis Tes) atau yang dulu dikenal dengan SBMPTN. Tes tersebut menjembatani anak-anak untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi yang dikehendaki. Tidak heran, mereka sibuk mempersiapkan diri hingga tak sadar telah menciptakan Toxic Productivity menjelang tes.

Seperti yang kita pahami bahwa tes atau rangkaian ujian memang memerlukan persiapan matang. Beberapa persiapan tersebut yaitu memperbanyak latihan, memantapkan materi, mengikuti program tes online, dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu melewati tes dengan nilai terbaik dan masuk di universitas yang diinginkan.

Meski begitu, siswa tidak sepatutnya terlalu berambisi dan memforsir diri. Mereka tetap harus melakukannya dengan memerhatikan waktu dan kondisi. Jika mengabaikan semua itu dan terlalu sibuk mengurus persiapan ujian, mereka bisa terjebak dalam Toxic Productivity. Apa itu dan bagaimana ciri-cirinya? Berikut penjelasannya:

Mengenal Toxic Productivity Menjelang Tes

Menurut Dr. Julie Smith, toxic productivity adalah sikap ambitious atau obsesi untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu. Ini juga berhubungan dengan keinginan mengembangkan skill, karir, dan sebagainya. Selanjutnya, pelaku akan merasa stress dan menyalahkan diri sendiri saat tidak melakukan sesuatu (persiapan dan sebagainya). Karena bagi mereka, produktif adalah visi dan misi penting dalam kehidupannya.

Meski demikian, sikap produktif tidak baik jika sampai mengenyampingkan hal penting lainnya, seperti segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan. Misalnya, istirahat, makan, minum, kenyamanan, dan sebagainya. Jika pelaku baik siswa, guru, atau masyarakat umum menyepelekan hal dasar tersebut, maka upaya produktif justru berujung kegagalan. Tubuh akan lelah secara fisik dan psikis, hasil tidak maksimal, dan lainnya. Yang pasti semua itu sia-sia atau istilah lainnya adalah pengkhianatan produktivitas.

Ciri-ciri Toxic Productivity Menjelang Tes

Banyak pelajar SMA dan tingkat sederajat yang sangat berambisi memasuki PTN. Mereka belajar setiap saat dan tidak kenal waktu demi bisa lolos dan mendapatkan nilai memuaskan. Seringkali, mereka berpikir keras dan mengabaikan istirahat. Seolah, goal hidupnya cuma satu, yaitu belajar di PTN favorit.

Siswa yang berlaku demikian berarti telah terperangkap dalam keadaan toxic productivity menjelang tes. Ada beberapa ciri lain yang menunjukkan sikap semacam itu. Di antaranya adalah:

Target capaian tidak realistis

Target capaian pembelajar memang sudah bagus. Hanya saja, cara yang ditempuh sangat jauh dari kata bagus. Memang, tujuan belajar adalah agar mampu meraih cita-cita baik dalam bidang pendidikan atau lainnya. Namun, jika mereka memaksa diri untuk terus belajar (tanpa diimbangi dengan hal lain), tidak akan membuahkan hasil yang baik. Yang ada justru merusak kesehatan fisik dan mental.

Kebanyakan, pelaku merasa nyaman dan tidak merasa terganggu dengan sikapnya. Namun, semua itu menyerang di akhir episode. Untuk menghindari hal ini, siswa sebaiknya mengatur ulang target yang sesuai dengan keadaan dan kemampuan. Dengan begitu, porsi yang didapat juga sesuai.

Berekspektasi terlalu tinggi

Orang yang sudah terperangkap dalam sikap dan pemikiran yang toxic cenderung mudah depresi, terlebih jika harapannya tidak tercapai. Ini akan membuat dirinya semakin keras pada diri sendiri. Dalam artian, mereka akan semakin memaksakan kehendak untuk meraih apa yang ditargetkan. Sehingga ketika gagal lagi, mereka akan merasakan sakit dan kecewa sendiri.

Enggan beristirahat

Menurut pelaku toxic productivity, istirahat adalah pekerjaan yang membuang-buang waktu dan kesempatan. Di manapun dan bagaimanapun keadaannya, mereka selalu memikirkan target capaian. Seperti contoh, makan sambil mengulas materi, ngobrol sambil memikirkan pelajaran, dan lainnya.

Dengan kata lain, mereka tidak mau melewatkan waktu sedetikpun untuk belajar. Padahal sebenarnya, hal itu hanya akan membuat otaknya lelah dan kurang fokus. Sebagaimana tubuh, otak juga butuh istirahat. Jika terus diajak untuk berpikir, otak bisa saja tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Itulah kenapa, banyak siswa yang sudah belajar siang malam justru mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan.

Bagaimana, apakah Anda sedang berada di zona toxic productivity menjelang tes? Fase ini tidak hanya terjadi menjelang SNBT, tetapi juga di kegiatan lain, seperti PPG, akreditasi, dan lainnya. Jadi, seimbangkan usaha, doa, dan keadaan, agar hasil yang diharapkan maksimal! Semoga sukses!

 

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *