Bahasa Arab

Benarkah Bina dalam Ilmu Sharaf Ada 8? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Pembagian dan Contohnya

Samudrapikiran.com – Ilmu sharaf menjadi salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang wajib dipelajari oleh para santri karena membahas perubahan bentuk kata beserta kaidah-kaidahnya. Salah satu materi penting dalam ilmu ini adalah bina’, yaitu klasifikasi kata berdasarkan susunan huruf asal serta perubahan yang terjadi pada huruf-huruf tersebut.

Mayoritas kitab sharaf menjelaskan bahwa bina’ terbagi menjadi tujuh macam. Namun, sejumlah ulama memiliki pandangan berbeda dengan menambahkan satu jenis bina’ lagi sehingga jumlahnya menjadi delapan. Lantas, benarkah bina’ dalam ilmu sharaf ada delapan? Berikut penjelasan lengkapnya.

Pengertian Bina dalam Ilmu Sharaf

Secara istilah, bina’ adalah bentuk suatu kata yang ditinjau berdasarkan huruf-huruf asal, susunan, harakat, maupun huruf yang bersukun.

Definisi tersebut dijelaskan dalam kitab Ar-Risalah at-Taṣrifiyyah li at-Taṣrif al-Iṣṭilaḥi wa al-Lughawi halaman 3:

الأَبْنِيَةُ هِيَ الصِّيغَةُ بِاعْتِبَارِ حُرُوفِهَا وَحَرَكَاتِهَا وَسَكَنَاتِهَا

Artinya:

“Bina adalah bentuk suatu kata yang ditinjau berdasarkan huruf-hurufnya, harakat-harakatnya, dan huruf-huruf yang bersukun.”

Dengan memahami bina’, seseorang akan lebih mudah mengenali karakter suatu kata, mengetahui letak huruf illat, hamzah, maupun huruf yang mengalami penggandaan.

Pembagian Bina Menurut Mayoritas Ulama

Sebagian besar ulama ilmu sharaf membagi bina’ menjadi tujuh macam. Masing-masing memiliki ciri tersendiri sesuai dengan posisi huruf asal dalam suatu kata.

1. Bina Shahih (بناء صحيح)

Bina shahih merupakan kata yang seluruh huruf asalnya terbebas dari huruf illat.

Contoh:

نَصَرَ

2. Bina Mitsal (بناء مثال)

Bina mitsal adalah kata yang huruf pertamanya berupa huruf illat.

Contoh:

وَعَدَ

3. Bina Ajwaf (بناء أجوف)

Bina ajwaf merupakan kata yang huruf tengahnya berupa huruf illat.

Contoh:

قَالَ

4. Bina Naqis (بناء ناقص)

Jenis ini memiliki huruf illat pada posisi terakhir.

Contoh:

غَزَا

5. Bina Lafif (بناء لفيف)

Bina lafif adalah kata yang memiliki dua huruf illat.

Contohnya:

  • شَوَى
  • وَقَى

6. Bina Mudha’af (بناء مضعف)

Bina mudha’af ditandai dengan adanya huruf yang mengalami penggandaan (tasydid).

Contoh:

مَدَّ

7. Bina Mahmuz (بناء مهموز)

Jenis bina’ ini mengandung huruf hamzah sebagai salah satu huruf asalnya.

Contoh:

أَمَلَ

Nazham untuk Menghafal Tujuh Macam Bina

Agar lebih mudah diingat, Syaikh Mundzir Nadzir dalam kitab Qawa’id al-I’lal fi ash-Sharf merangkum ketujuh macam bina tersebut ke dalam sebuah nazham yang berbunyi:

صحيح مثال مضعف لفيف
ناقص مهموز مع الأجوف

Nazham tersebut membantu para santri menghafal urutan tujuh macam bina yang menjadi pembahasan utama dalam ilmu sharaf.

Benarkah Bina Ada Delapan Macam?

Selain pendapat yang menyebutkan jumlah bina sebanyak tujuh, terdapat sebagian ulama yang menambahkan satu kategori lagi, yaitu bina mu’tal majmu’ atau dikenal pula sebagai bina majmu’.

Dengan tambahan tersebut, jumlah bina menjadi delapan macam.

Pendapat ini memang tidak sepopuler pembagian tujuh bina, namun tetap ditemukan dalam sejumlah kitab syarah ilmu sharaf.

Apa Itu Bina Majmu’?

Bina majmu’ adalah kata yang seluruh huruf asalnya (fa’, ‘ain, dan lam fi’il) sama-sama berupa huruf illat.

Karena seluruh unsur pokok katanya terdiri atas huruf illat, jenis ini juga disebut bina mu’tal majmu’.

Pembagian Bina Majmu’

Bina majmu’ terbagi menjadi dua bentuk.

1. Majmu’ Wawi

Majmu’ wawi merupakan kata yang seluruh huruf asalnya berupa huruf wawu.

Contohnya:

وَاوٌ

Menurut penjelasan ulama, bentuk asal katanya adalah:

ووو

Perubahan kemudian dilakukan pada huruf tengah sehingga bentuk katanya menjadi lebih ringan untuk diucapkan.

2. Majmu’ Ya’i

Majmu’ ya’i adalah kata yang seluruh huruf asalnya berupa huruf ya’.

Contohnya:

يَاءٌ

Bentuk asalnya adalah:

ييي

Huruf tengah mengalami perubahan terlebih dahulu, kemudian huruf terakhir berubah menjadi hamzah agar lebih ringan dalam pelafalan.

Perlu dipahami bahwa contoh واو dan ياء di atas merupakan nama huruf (isim huruf), bukan fi’il yang digunakan dalam kalimat.

Penjelasan Ulama Mengenai Bina Majmu’

Keterangan mengenai bina mu’tal majmu’ dijelaskan dalam kitab Syarḥ al-Kailani halaman 30 sebagai berikut:

وهو ما يكون فاء فعله وعين فعله ولام فعله حروف علة ويقال له المعتل المجموع…

Artinya:

“Yang dimaksud adalah fi’il yang fa’ fi’il, ‘ain fi’il, dan lam fi’il-nya sama-sama berupa huruf illat. Bentuk seperti ini dinamakan bina mu’tal majmu’. Apabila asal katanya terdiri dari huruf wawu (ووو), maka huruf ‘ain fi’il diubah menjadi alif, sedangkan lam fi’il tetap. Perubahan tersebut dilakukan agar tidak berkumpul dua huruf illat yang berharakat di awal kata. Begitu pula pada asal kata yang terdiri dari huruf ya’ (ييي), huruf ‘ain fi’il diubah menjadi alif, kemudian huruf ya’ terakhir diubah menjadi hamzah sehingga menjadi ياء.”

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa perubahan dilakukan demi menjaga kemudahan pelafalan sesuai kaidah bahasa Arab.

Mengapa Ada Perbedaan Pendapat?

Perbedaan jumlah bina antara tujuh dan delapan muncul karena adanya perbedaan sudut pandang para ulama dalam mengelompokkan bentuk kata.

Mayoritas kitab sharaf klasik hanya memasukkan tujuh macam bina karena menganggap bina majmu’ sebagai bentuk yang sangat terbatas penggunaannya. Sementara sebagian ulama lainnya menilai bina mu’tal majmu’ memiliki karakteristik khusus sehingga layak dijadikan kategori tersendiri.

Dengan demikian, kedua pendapat sama-sama memiliki landasan ilmiah yang dapat dijumpai dalam literatur ilmu sharaf.

Sebelumnya

Terjemah dan Syarah Nadhom Maqsud, Panduan Memahami Dasar Ilmu Sharaf bagi Santri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Samudrapikiran.com