Kajian Islam

Memahami Pembagian Tashrif dalam Ilmu Sharaf, Perbedaan Tashrif Istilahi dan Tashrif Lughawi Lengkap dengan Contohnya

Samudrapikiran.comIlmu sharaf merupakan salah satu cabang penting dalam tata bahasa Arab yang mempelajari perubahan bentuk kata beserta makna yang dihasilkannya. Bagi para santri maupun pelajar bahasa Arab, istilah tashrif tentu sudah tidak asing lagi. Bahkan, kegiatan menghafal tabel tashrif menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses memahami struktur bahasa Arab.

Namun, tidak semua perubahan kata dalam ilmu sharaf memiliki tujuan yang sama. Secara umum, para ulama membagi tashrif menjadi dua jenis, yaitu tashrif istilahi dan tashrif lughawi. Keduanya sama-sama membahas perubahan bentuk kata, tetapi memiliki fokus pembahasan dan fungsi yang berbeda.

Dengan memahami kedua jenis tashrif tersebut, pelajar akan lebih mudah mengenali perubahan bentuk kata, menentukan makna yang dimaksud, serta memahami hubungan antara kata kerja dengan pelakunya.

Apa Itu Tashrif dalam Ilmu Sharaf?

Secara sederhana, tashrif adalah proses mengubah suatu kata ke dalam berbagai bentuk sesuai kaidah bahasa Arab.

Perubahan tersebut dilakukan untuk tujuan tertentu, baik untuk menunjukkan makna yang berbeda maupun menyesuaikan bentuk kata dengan pelakunya. Oleh karena itu, ilmu tashrif menjadi dasar penting sebelum mempelajari pembahasan sharaf yang lebih luas.

Tashrif Istilahi: Mengubah Bentuk Kata Sesuai Makna

Jenis pertama adalah tashrif istilahi, yaitu perubahan satu bentuk kata menjadi bentuk lainnya untuk menghasilkan makna yang berbeda sesuai kebutuhan.

Dalam tashrif istilahi, satu kata dasar dapat berkembang menjadi berbagai bentuk yang masing-masing memiliki fungsi dan arti tersendiri.

Bentuk-Bentuk dalam Tashrif Istilahi

Beberapa bentuk yang termasuk dalam tashrif istilahi meliputi:

  • Fi’il Madhi
  • Fi’il Mudhari’
  • Mashdar
  • Fi’il Amr
  • Fi’il Nahyi
  • Isim Fa’il
  • Isim Maf’ul
  • Isim Zaman
  • Isim Makan
  • Isim Alat

Seluruh bentuk tersebut berasal dari satu akar kata yang sama, tetapi digunakan untuk menunjukkan makna yang berbeda.

Contoh Tashrif Istilahi

Sebagai contoh, akar kata نَصَرَ dapat berubah menjadi beberapa bentuk berikut:

نَصَرَ – يَنْصُرُ – نَصْرًا – اُنْصُرْ – لَا تَنْصُرْ – نَاصِرٌ – مَنْصُورٌ

Dari satu kata dasar tersebut muncul berbagai makna, antara lain:

  • نَصَرَ menunjukkan pekerjaan yang telah terjadi (fi’il madhi).
  • يَنْصُرُ menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan berlangsung (fi’il mudhari’).
  • اُنْصُرْ menunjukkan perintah (fi’il amr).
  • لَا تَنْصُرْ menunjukkan larangan (fi’il nahyi).
  • نَاصِرٌ menunjukkan pelaku pekerjaan (isim fa’il).
  • مَنْصُورٌ menunjukkan objek yang dikenai pekerjaan (isim maf’ul).

Perubahan makna inilah yang menjadi inti pembahasan tashrif istilahi.

Penjelasan Ulama

Keterangan mengenai tashrif istilahi dijelaskan dalam kitab Al-Mathlub bi Syarh al-Maqshud fi al-Tashrif halaman 8:

وَمِنَ الْأَمْثِلَةِ الْمُخْتَلِفَةِ الْأَمْثِلَةُ الْمُتَنَوِّعَةُ نَحْوَ نَصَرَ يَنْصُرُ نَصْرًا وَمَنْصَرًا لَا تَنْصُرْ نَاصِرٌ مَنْصُورٌ وَغَيْرُهَا وَمِنَ الْمَعَانِي الْمَقْصُودَةِ الْمَاضِي وَالْمُضَارِعُ وَالْأَمْرُ وَالنَّهْيُ وَغَيْرُهَا

Artinya:

“Di antara bentuk-bentuk yang berbeda terdapat contoh yang beragam seperti nashara, yanshuru, nashran, mansharan, la tanshur, nashirun, manshurun, dan bentuk lainnya. Adapun makna yang dimaksud meliputi fi’il madhi, mudhari’, amr, nahyi, dan bentuk lainnya.”

Tashrif Lughawi: Menyesuaikan Kata Berdasarkan Pelaku

Berbeda dengan tashrif istilahi, tashrif lughawi berfokus pada perubahan bentuk kata kerja berdasarkan pelaku (fa’il).

Artinya, satu kata kerja akan mengalami perubahan sesuai dengan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut.

Perubahan ini memperhatikan beberapa aspek, antara lain:

  • Mufrad (tunggal)
  • Tatsniyah (dua orang)
  • Jamak (lebih dari dua)
  • Mudzakkar (laki-laki)
  • Muannats (perempuan)
  • Ghaib (orang ketiga)
  • Mukhatab (orang kedua)
  • Mutakallim (orang pertama)

Contoh Tashrif Lughawi

Salah satu contoh tashrif lughawi dapat dilihat dari perubahan kata ضَرَبَ, yaitu:

ضَرَبَ – ضَرَبَا – ضَرَبُوا – ضَرَبَتْ – ضَرَبَتَا – ضَرَبْنَ – ضَرَبْتَ – ضَرَبْتُمَا – ضَرَبْتُمْ – ضَرَبْتِ – ضَرَبْتُمَا – ضَرَبْتُنَّ – ضَرَبْتُ – ضَرَبْنَا

Seluruh bentuk tersebut berasal dari akar kata yang sama, tetapi berubah sesuai dengan dhamir atau pelaku yang digunakan.

Misalnya:

  • Bentuk untuk dia laki-laki berbeda dengan mereka laki-laki.
  • Bentuk kamu perempuan berbeda dengan kami.
  • Begitu pula bentuk untuk pelaku tunggal, dua orang, maupun jamak memiliki perubahan tersendiri.

Perubahan inilah yang menjadi fokus utama tashrif lughawi.

Penjelasan dalam Kitab

Kitab Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah Jilid 1 halaman 226 menjelaskan:

تَصْرِيفُ الْفِعْلِ تَحْوِيلُهُ بِحَسَبِ فَاعِلِهِ. فَيُحَوَّلُ مِنْ ضَمِيرِ الْمُفْرَدِ إِلَى ضَمِيرِ الْمُثَنَّى أَوِ الْجَمْعِ، وَمِنْ ضَمِيرِ الْمُذَكَّرِ إِلَى ضَمِيرِ الْمُؤَنَّثِ، وَمِنْ ضَمِيرِ الْغَائِبِ إِلَى ضَمِيرِ الْمُخَاطَبِ أَوِ الْمُتَكَلِّمِ

Artinya:

“Tashrif fi’il atau tashrif lughawi adalah mengubah bentuk kata kerja berdasarkan pelakunya. Kata tersebut diubah dari dhamir mufrad menjadi mutsanna atau jamak, dari mudzakkar menjadi muannats, serta dari dhamir ghaib menjadi mukhatab maupun mutakallim.”

Perbedaan Tashrif Istilahi dan Tashrif Lughawi

Agar lebih mudah dipahami, berikut perbedaan mendasar antara keduanya.

Tashrif IstilahiTashrif Lughawi
Mengubah bentuk kata untuk menghasilkan makna yang berbedaMengubah bentuk kata sesuai pelaku atau fa’il
Berfokus pada perubahan fungsi kataBerfokus pada perubahan berdasarkan dhamir
Meliputi fi’il madhi, mudhari’, mashdar, amr, nahyi, isim fa’il, isim maf’ul, isim zaman, isim makan, dan isim alatMemperhatikan mufrad, tatsniyah, jamak, mudzakkar, muannats, ghaib, mukhatab, dan mutakallim

Mengapa Memahami Kedua Jenis Tashrif Itu Penting?

Penguasaan tashrif istilahi dan lughawi menjadi bekal utama dalam mempelajari bahasa Arab secara menyeluruh.

Dengan memahami tashrif istilahi, pelajar dapat mengenali berbagai perubahan makna yang muncul dari satu akar kata. Sementara itu, tashrif lughawi membantu memahami perubahan bentuk kata berdasarkan pelaku sehingga mempermudah membaca, menerjemahkan, maupun menganalisis teks Arab.

Kemampuan ini juga menjadi dasar dalam mempelajari kitab-kitab klasik, memahami struktur kalimat Arab, hingga menguasai ilmu nahwu dan sharaf secara lebih mendalam.

Sebelumnya

Memahami Pengertian Wazan, Mauzun, dan Mutabaqah dalam Ilmu Sharaf, Lengkap Beserta Contohnya

Selanjutnya

Beasiswa BCA 2027 Resmi Dibuka, Kuliah Gratis 2,5 Tahun hingga Peluang Langsung Berkarier di BCA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Samudrapikiran.com