Kajian Islam

Terjemah dan Syarah Nadhom Maqsud, Panduan Memahami Dasar Ilmu Sharaf bagi Santri

Samudrapikiran.com – Nadhom Maqsud merupakan salah satu kitab klasik yang sangat populer di kalangan pesantren sebagai rujukan mempelajari ilmu sharaf. Kitab berbentuk syair ini disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrahim dan terdiri atas 113 bait yang menjelaskan kaidah-kaidah perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab secara sistematis.

Melalui susunan bait yang ringkas namun padat makna, kitab ini membantu para santri memahami konsep tashrif, pembagian fi’il, hingga berbagai kaidah yang menjadi fondasi ilmu sharaf. Berikut terjemahan beserta penjelasan syarah beberapa bait awal Nadhom Maqsud.

Muqaddimah Nadhom Maqsud

Nadhom diawali dengan bait pembuka sebagai bentuk pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya.

Teks Nadhom

يَقُوْلُ بَعْدَ حَمْدِ ذِيْ الْجَلاَلِ ** مُصَلِّيًا عَلَى النَّبِيِّ وَالْآلِ
عَبْدُ أَسِيْرُ رَحْمَةِ الْكَرِيْمِ ** أَيْ أَحْمَدُ بْنُ عَابِدِ الرَّحِيْمِ

Terjemahan

“Setelah memanjatkan puji kepada Allah Yang Maha Agung serta bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, seorang hamba yang selalu mengharap rahmat Allah Yang Maha Mulia, yaitu Ahmad bin Abdurrahim, mulai menyampaikan penjelasannya.”

Muqaddimah ini menjadi tradisi dalam banyak karya ulama klasik, yakni mendahulukan pujian kepada Allah dan shalawat sebelum memasuki pembahasan utama.

Bab Fi’il Tsulasi Mujarrad

Pembahasan berikutnya memasuki salah satu materi pokok ilmu sharaf, yaitu fi’il tsulasi mujarrad.

Teks Nadhom

فِعْلٌ ثُلَاثِيٌّ إِذَا يُجَرَّدُ ** أَبْوَابُهُ سِتٌّ كَمَا سَتُسْرَدُ

Terjemahan

“Fi’il tsulasi mujarrad apabila terbebas dari huruf tambahan, maka memiliki enam bab sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.”

Penjelasan

Fi’il tsulasi mujarrad merupakan kata kerja yang terdiri atas tiga huruf asli tanpa tambahan huruf. Contohnya:

  • ضَرَبَ
  • كَتَبَ
  • عَلِمَ

Dalam ilmu sharaf, fi’il jenis ini terbagi menjadi enam bab, yaitu:

BabWazan
Bab Iفَعَلَ – يَفْعِلُ
Bab IIفَعَلَ – يَفْعُلُ
Bab IIIفَعَلَ – يَفْعَلُ
Bab IVفَعُلَ – يَفْعُلُ
Bab Vفَعِلَ – يَفْعَلُ
Bab VIفَعِلَ – يَفْعِلُ

Enam pola tersebut dirangkum dalam syair terkenal:

فَتْحُ كَسْرٍ فَتْحُ ضَمٍّ فَتْحَتَانْ
ضَمُّ ضَمٍّ كَسْرُ فَتْحٍ كَسْرَتَانْ

Perlu dipahami bahwa tidak semua fi’il dapat mengikuti seluruh bab tersebut. Masing-masing memiliki aturan dan syarat tersendiri.

Penjelasan Bab I hingga Bab III

Teks Nadhom

فَالْعَيْنُ إِنْ تُفْتَحْ بِمَاضٍ فَاكْسِرِ
أَوْ ضُمَّ أَوْ فَافْتَحْ لَهَا فِي الْغَابِرِ

Terjemahan

“Apabila huruf ‘ain pada fi’il madhi dibaca fathah (فَعَلَ), maka pada fi’il mudhari’ dapat dibaca kasrah (يَفْعِلُ), dhammah (يَفْعُلُ), ataupun fathah (يَفْعَلُ).”

Bait ini menjelaskan tiga bab pertama fi’il tsulasi mujarrad.

Bab I (فَعَلَ – يَفْعِلُ)

Bab pertama umumnya digunakan pada beberapa bentuk bina’, antara lain:

  • Mitsal wawi, seperti:
    • وَعَدَ – يَعِدُ
  • Naqis ya’i:
    • مَشَى – يَمْشِي
  • Ajwaf ya’i:
    • بَاعَ – يَبِيعُ
  • Mudha’af lazim:
    • فَرَّ – يَفِرُّ

Apabila terdapat fi’il yang mengikuti pola ini tetapi tidak memenuhi ketentuan tersebut, maka dikategorikan mukhalif lil qiyas (menyelisihi kaidah umum), misalnya:

  • فَاءَ – يَفِئُ

Mayoritas fi’il pada bab ini bersifat muta’addi, yaitu membutuhkan objek.

Contoh:

ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا

“Zaid memukul Amr.”

Adapun contoh fi’il lazim:

جَلَسَ زَيْدٌ

“Zaid telah duduk.”

Bab II (فَعَلَ – يَفْعُلُ)

Bab kedua umumnya diikuti oleh:

  • Ajwaf wawi:
    • قَالَ – يَقُولُ
  • Naqis wawi:
    • دَعَا – يَدْعُو
  • Mudha’af muta’addi:
    • مَدَّ – يَمُدُّ

Sebagian besar fi’il pada bab ini juga termasuk muta’addi.

Bab III (فَعَلَ – يَفْعَلُ)

Bab ketiga berlaku apabila huruf ‘ain atau lam fi’il berupa huruf halaq:

ء، ه، ع، غ، ح، خ

Contohnya:

فَتَحَ – يَفْتَحُ

Apabila bukan huruf halaq namun tetap mengikuti pola tersebut, maka dihukumi syadz, misalnya:

  • أَبَى – يَأْبَى
  • رَكَنَ – يَرْكَنُ

Mayoritas fi’il dalam bab ini juga merupakan fi’il muta’addi.

Penjelasan Bab IV hingga Bab VI

Teks Nadhom

وَإِنْ تُضَمَّ فَاضْمُمْنَهَا فِيهِ
أَوْ تَنْكَسِرْ فَافْتَحْ وَكَسْرًا عِيهِ

Terjemahan

“Jika huruf ‘ain pada fi’il madhi dibaca dhammah (فَعُلَ), maka huruf ‘ain pada mudhari’ juga dibaca dhammah (يَفْعُلُ). Sedangkan apabila dibaca kasrah (فَعِلَ), maka pada mudhari’ dapat dibaca fathah (يَفْعَلُ) atau kasrah (يَفْعِلُ).”

Bab IV (فَعُلَ – يَفْعُلُ)

Bab ini digunakan untuk fi’il yang menunjukkan sifat atau karakter tetap.

Contoh:

حَسُنَ وَجْهُ زَيْدٍ

“Wajah Zaid tampan.”

عَظُمَ ذَلِكَ الْأَمْرُ

“Perkara itu besar.”

Seluruh fi’il pada bab ini termasuk fi’il lazim.

Bab V (فَعِلَ – يَفْعَلُ)

Bab ini dapat berupa fi’il lazim maupun muta’addi.

Contoh muta’addi:

عَلِمَ زَيْدٌ تِلْكَ الْمَسْأَلَةَ

“Zaid mengetahui persoalan itu.”

Contoh lazim:

فَرِحَ زَيْدٌ

“Zaid bergembira.”

Secara umum bab ini digunakan untuk menunjukkan:

  • sifat yang menetap,
  • keadaan sementara,
  • perubahan,
  • warna.

Bab VI (فَعِلَ – يَفْعِلُ)

Bab keenam juga dapat berupa muta’addi maupun lazim.

Contoh muta’addi:

حَسِبَ هَذِهِ الْكُتُبَ

“Ia menghitung kitab-kitab tersebut.”

Contoh lazim:

نَعِمَ عَمِّي

“Pamanku hidup dalam keadaan senang.”

Keterangan Penting

Dalam memahami pembagian bab fi’il tsulasi mujarrad, terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui:

  • Fi’il tsulasi mujarrad adalah fi’il yang terdiri atas tiga huruf asli.
  • Fi’il muta’addi merupakan kata kerja yang membutuhkan maf’ul bih (objek).
  • Fi’il lazim adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek.

Perlu diketahui pula bahwa urutan pembagian bab dalam kitab Nadhom Maqsud tidak sepenuhnya sama dengan urutan yang terdapat pada kitab Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah.

Ketentuan Huruf Halaq pada Bab Ketiga

Teks Nadhom

وَلَامٌ أَوْ عَيْنٌ بِمَا قَدْ فُتِحَا
حَلْقِيٌّ سِوَى ذَا بِالشُّذُوذِ اتَّضَحَا

Terjemahan

“Apabila fi’il mengikuti pola فَعَلَ – يَفْعَلُ, maka huruf ‘ain atau lam harus berupa huruf halaq. Selain itu termasuk bentuk syadz.”

Huruf halaq meliputi:

  • ء
  • ه
  • ع
  • غ
  • ح
  • خ

Contoh:

فَتَحَ – يَفْتَحُ

Sedangkan:

أَبَى – يَأْبَى

dikategorikan sebagai bentuk syadz karena tidak memenuhi kaidah tersebut.

Pembagian Syadz dalam Ilmu Sharaf

Dalam ilmu sharaf, bentuk syadz dibagi menjadi tiga macam.

  1. Menyelisihi kaidah tetapi tetap digunakan, misalnya:
  • اِسْتَحْوَذَ
  1. Sesuai kaidah tetapi berbeda dalam pemakaian, sebagaimana beberapa contoh yang dijelaskan ulama.
  2. Menyelisihi kaidah sekaligus pemakaian, misalnya penggunaan:

الْيَتَقَصَّعُ

yang diberi alif lam meskipun berupa fi’il mudhari’. Bentuk seperti ini tidak dapat dijadikan acuan dalam kaidah sharaf.

Sebelumnya

Seleksi PPG Calon Guru 2026 Resmi Dibuka, Simak Jadwal Pendaftaran, Alur Seleksi, dan Ketentuan Pembayaran

Selanjutnya

Benarkah Bina dalam Ilmu Sharaf Ada 8? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Pembagian dan Contohnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Samudrapikiran.com