Menjaga Lisan dan Tangan dalam Islam, Petunjuk Nabi Muhammad SAW di Era Digital


Samudrapikiran.com – Dalam ajaran Islam, kemampuan menjaga lisan dan tangan merupakan bagian penting dari pembentukan akhlak seorang Muslim. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang Muslim sejati tidak hanya ditandai oleh ibadahnya, tetapi juga oleh kemampuannya memberikan rasa aman kepada orang lain, baik dari perkataan maupun perbuatannya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Jika dahulu perkataan disampaikan secara langsung melalui lisan, kini pesan yang sama dapat disebarkan melalui ketikan jari di layar gawai dan menjangkau banyak orang hanya dalam hitungan detik.
Karena itu, prinsip menjaga lisan dan tangan tidak hanya berkaitan dengan interaksi secara langsung, tetapi juga perlu diterapkan ketika seseorang menggunakan media sosial dan berbagai ruang komunikasi digital.
Makna Menjaga Lisan dan Tangan dalam Islam
Menjaga lisan berarti mengendalikan ucapan agar tidak digunakan untuk menyakiti, menghina, memfitnah, menyebarkan kebohongan, maupun merendahkan orang lain. Sementara menjaga tangan dapat dimaknai sebagai kemampuan menahan diri dari tindakan yang merugikan atau menyakiti sesama.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian besar terhadap keamanan dan kehormatan manusia dalam kehidupan sosial.
Seorang Muslim dituntut untuk mempertimbangkan dampak dari perkataan maupun tindakannya. Kalimat yang diucapkan secara spontan dapat meninggalkan luka, sementara tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Dalam konteks modern, makna tersebut dapat diperluas pada aktivitas digital. Menulis komentar, mengunggah konten, membagikan informasi, mengirim pesan pribadi, hingga menyebarkan video merupakan bagian dari perilaku yang perlu dikendalikan.
Menjaga Lisan di Tengah Perkembangan Media Digital
Perkembangan media sosial membuat komunikasi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Sebuah unggahan dapat dibaca, disalin, dan disebarluaskan oleh banyak orang dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuat dampak sebuah perkataan tidak lagi terbatas pada lingkungan terdekat. Ucapan yang sebelumnya hanya didengar oleh beberapa orang dapat berubah menjadi konsumsi publik setelah dituangkan dalam bentuk tulisan atau rekaman digital.
Ujaran kebencian, penghinaan, fitnah, dan perundungan siber menjadi contoh bagaimana penggunaan komunikasi tanpa kendali dapat menimbulkan persoalan sosial.
Karena itu, seorang Muslim perlu membangun kebiasaan berpikir sebelum berbicara maupun mengetik. Pertanyaan sederhana seperti apakah informasi tersebut benar, apakah bermanfaat, dan apakah dapat menyakiti orang lain dapat menjadi bagian dari pengendalian diri sebelum sebuah pesan disebarkan.
Tabayyun Sebelum Membagikan Informasi
Menjaga lisan di ruang digital juga berkaitan erat dengan kebiasaan melakukan tabayyun atau klarifikasi.
Tidak semua informasi yang beredar di media sosial dapat langsung dianggap benar. Judul yang provokatif, potongan video, gambar tanpa konteks, hingga pesan berantai dapat membuat seseorang mengambil kesimpulan yang keliru.
Seorang Muslim perlu memastikan kebenaran informasi sebelum meneruskannya kepada orang lain. Kebiasaan membagikan berita tanpa melakukan pemeriksaan dapat memperluas informasi yang salah dan merugikan pihak tertentu.
Karena itu, kehati-hatian dalam menyebarkan informasi menjadi bagian dari tanggung jawab moral. Menahan diri untuk tidak mengunggah atau meneruskan konten yang belum jelas kebenarannya merupakan salah satu bentuk penerapan akhlak dalam kehidupan digital.
Menjaga Tangan Tidak Berhenti pada Kekerasan Fisik
Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga tangan sering dikaitkan dengan larangan melakukan kekerasan terhadap orang lain. Namun, dalam perkembangan teknologi, bentuk tindakan yang dilakukan melalui tangan menjadi jauh lebih beragam.
Jari yang digunakan untuk mengetik dapat menghasilkan dampak sosial yang besar. Sebuah komentar penghinaan, unggahan yang mempermalukan seseorang, penyebaran foto pribadi tanpa izin, maupun pesan bernada ancaman dapat menimbulkan kerugian meskipun tidak melibatkan kontak fisik.
Dengan demikian, penggunaan perangkat digital juga membutuhkan pengendalian diri. Setiap tindakan yang dilakukan melalui gawai perlu dipertimbangkan berdasarkan dampaknya terhadap orang lain.
Menjaga Lisan dan Tangan untuk Mencegah Perundungan
Nilai menjaga lisan dan tangan memiliki relevansi kuat dalam upaya mencegah perundungan, termasuk perundungan yang berlangsung di dunia maya.
Data Kementerian Pendidikan yang dicantumkan dalam sumber menyebutkan bahwa lebih dari 40 persen siswa di Indonesia pernah mengalami tindakan perundungan. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan perundungan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, terutama lingkungan pendidikan.
Penelitian lapangan yang menjadi rujukan dalam sumber juga mencatat bahwa 80 persen siswa meyakini pemahaman hadis dapat membantu mencegah aksi perundungan. Selain itu, 65 persen siswa menilai pelatihan berbasis hadis mampu meningkatkan empati sosial.
Pengujian statistik dalam penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara pemahaman nilai agama dengan penurunan perilaku agresif.
Temuan tersebut dapat menjadi gambaran bahwa pendidikan karakter berbasis nilai agama memiliki ruang untuk mendukung pembentukan perilaku sosial yang lebih positif. Namun, penerapannya tetap membutuhkan dukungan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Kesadaran Spiritual sebagai Pengendali Perilaku
Pengendalian diri merupakan bagian penting dalam menerapkan ajaran menjaga lisan dan tangan. Seseorang tidak selalu berada dalam pengawasan orang lain ketika menggunakan media sosial.
Karena itu, diperlukan pengawasan yang berasal dari kesadaran pribadi. Keyakinan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan dapat menjadi pertimbangan sebelum seseorang menulis komentar, mengunggah konten, atau menyebarkan informasi.
Kesadaran spiritual tersebut dapat berfungsi sebagai penyaring sebelum seseorang melakukan tindakan di ruang publik digital. Tidak semua hal yang dapat diunggah harus dibagikan, dan tidak semua komentar yang muncul dalam pikiran perlu dituliskan.
Menahan diri dari konten negatif bukan berarti membatasi komunikasi, melainkan mengarahkan penggunaan teknologi agar memberikan manfaat dan tidak merugikan orang lain.
Menjaga Kehormatan dan Nama Baik Sesama
Islam juga memberikan perhatian terhadap kehormatan manusia. Meremehkan, mencaci, menghina, atau mempermalukan orang lain merupakan perilaku yang bertentangan dengan etika pergaulan yang baik.
Dalam kehidupan digital, persoalan menjaga kehormatan menjadi semakin kompleks karena sebuah konten dapat bertahan dan beredar dalam waktu lama. Pernyataan yang dibuat dalam kondisi emosi dapat kembali muncul dan memberikan dampak setelah persoalan awal berlalu.
Karena itu, pengguna media sosial perlu memahami bahwa komunikasi digital tetap memiliki konsekuensi moral. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak seharusnya digunakan untuk merendahkan martabat orang lain.
Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Membentuk Etika Digital
Pembentukan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui nasihat kepada anak atau siswa. Orang tua dan pendidik memiliki peran penting dalam memberikan contoh penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
Di lingkungan keluarga, anak dapat dibiasakan untuk berbicara dengan sopan, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, serta menghargai privasi orang lain.
Sementara di sekolah, pendidikan karakter dapat diarahkan pada pembentukan budaya saling menghormati. Siswa perlu memahami bahwa perundungan tidak hanya terjadi melalui tindakan fisik, tetapi juga melalui komentar, pesan, unggahan, dan penyebaran konten di media sosial.
Sinergi antara keluarga dan sekolah dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman sekaligus mendukung perkembangan mental dan spiritual anak.
Baca juga:









