Mengapa Gunung Berapi yang Tampak Tenang Bisa Tiba-Tiba Meletus? Ini Penjelasan Ilmiahnya


Samudrapikiran.com – Letusan Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, pada Jumat, 8 Mei 2026, kembali mengingatkan masyarakat tentang bahaya aktivitas vulkanik di Indonesia. Erupsi tersebut menyemburkan abu vulkanik hingga mencapai ketinggian sekitar 10 kilometer dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan yang sering muncul setiap kali terjadi erupsi, yakni apakah gunung berapi benar-benar dapat meletus secara tiba-tiba tanpa peringatan sebelumnya?
Meski bagi sebagian orang letusan terlihat terjadi mendadak, para ilmuwan menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik sebenarnya merupakan hasil dari proses panjang yang berlangsung di bawah permukaan bumi. Namun, tidak semua proses tersebut dapat terdeteksi dengan mudah dari luar.
Gunung Dukono Sudah Berstatus Waspada Sebelum Erupsi
Sebelum letusan terjadi, Gunung Dukono sebenarnya telah menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Sejak akhir Maret 2026, gunung ini berada pada Level II atau Waspada.
Status tersebut menandakan adanya aktivitas vulkanik di atas kondisi normal dan masyarakat maupun wisatawan disarankan untuk tidak beraktivitas dalam radius sekitar 4 kilometer dari kawah.
Dalam peristiwa erupsi tersebut, tiga korban meninggal dunia terdiri atas dua warga negara asing asal Singapura dan satu warga negara Indonesia asal Jayapura yang diketahui sedang melakukan pendakian. Sementara itu, belasan orang lainnya berhasil selamat.
Penelitian Ungkap Aktivitas Tersembunyi di Bawah Gunung Berapi
Untuk memahami bagaimana letusan dapat terjadi, para peneliti dari University of Geneva (UNIGE) melakukan kajian terhadap Gunung Berapi Ebeko yang berada di Pulau Paramushir, Jepang.
Penelitian yang dipimpin oleh Ivan Cabrera-Perez tersebut berfokus pada struktur bawah tanah gunung berapi, khususnya kantong lelehan magma dan lapisan batuan yang kaya cairan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gunung berapi yang terlihat tenang di permukaan belum tentu berada dalam kondisi aman. Di bawah tanah, tekanan dapat terus meningkat dan menciptakan retakan baru tanpa menimbulkan tanda-tanda yang mudah diamati.
Untuk mempelajari proses tersebut, tim peneliti memasang 21 stasiun seismik yang berfungsi mendeteksi aktivitas bawah tanah. Melalui data yang diperoleh, mereka berhasil memetakan struktur internal gunung berapi dengan lebih rinci.
Magma Tersimpan dalam Sistem Berlapis
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports pada 26 Maret 2026 itu menunjukkan bahwa magma di Gunung Ebeko tersimpan dalam dua zona utama.
Zona pertama berada pada kedalaman sekitar 0,5 hingga 1,9 kilometer di bawah permukaan. Sementara zona kedua terletak lebih dalam, yakni sekitar 4 hingga 6 kilometer.
Sistem penyimpanan magma yang berlapis ini membuat aktivitas vulkanik tidak selalu terlihat dari luar. Akibatnya, sebuah gunung berapi dapat tampak stabil meskipun di bawahnya sedang terjadi perubahan tekanan yang signifikan.
Peran Air Panas dan Gas dalam Memicu Letusan
Para peneliti menemukan bahwa area kawah Ebeko dipenuhi batuan retak yang celah-celahnya berisi air panas dan gas.
Ketika panas atau gas baru masuk ke lapisan dangkal tersebut, tekanan dapat meningkat dengan cepat hingga memicu ledakan. Menariknya, proses ini tidak selalu disertai gejala yang jelas di permukaan.
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan keberadaan Yuriev Hot Springs yang berada di dekat kawah. Sumber air panas ini terhubung dengan sistem hidrotermal bawah tanah yang memungkinkan air bergerak melalui retakan batuan dalam area yang luas.
Kombinasi antara air panas, gas, dan retakan batuan inilah yang menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan tekanan di dalam gunung berapi.
Ledakan Tidak Selalu Berasal dari Magma
Di bawah lapisan retakan yang dipenuhi cairan, para ilmuwan menemukan inti lelehan yang relatif tenang. Lapisan ini diduga menjadi reservoir magma atau tempat penyimpanan batuan cair vulkanik.
Menariknya, sumber magma tersebut dikelilingi oleh batuan yang mampu menyerap sebagian energi seismik atau getaran. Kondisi ini membantu mengurangi kemungkinan terjadinya letusan besar secara terus-menerus.
Karena itu, yang lebih sering terjadi adalah ledakan uap dan air panas yang keluar bersamaan dengan material vulkanik dari kedalaman tertentu.
Cairan dan gas dari reservoir magma bergerak melalui retakan batuan menuju lapisan yang lebih dangkal. Seiring waktu, tekanan terus terakumulasi hingga mencapai titik tertentu yang memicu ledakan.
Letusan Gunung Berapi Merupakan Proses Bertahap
Penelitian ini memberikan pemahaman bahwa letusan gunung berapi bukanlah peristiwa yang muncul secara instan akibat satu tekanan besar.
Sebaliknya, erupsi merupakan hasil interaksi kompleks antara magma, air, gas, dan jaringan retakan batuan yang berkembang secara bertahap di bawah permukaan bumi.
Meski teknologi pemantauan vulkanik terus berkembang, para ilmuwan masih belum dapat menentukan secara pasti kapan sebuah gunung berapi akan meletus.
Namun, pemetaan struktur bawah tanah seperti yang dilakukan pada Gunung Ebeko membantu meningkatkan pemahaman mengenai mekanisme erupsi serta memperkuat sistem mitigasi bencana di kawasan rawan gunung api.
Kesimpulan
Peristiwa erupsi Gunung Dukono menunjukkan bahwa letusan gunung berapi sering kali terlihat mendadak bagi masyarakat. Akan tetapi, di baliknya terdapat proses geologi yang berlangsung secara bertahap dan kompleks di bawah permukaan bumi.
Penelitian terbaru mengungkap bahwa tekanan yang terbentuk dari interaksi magma, gas, air panas, dan retakan batuan dapat memicu ledakan meskipun permukaan gunung tampak tenang. Karena itu, pemantauan aktivitas vulkanik dan kepatuhan terhadap rekomendasi zona aman menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban jiwa saat terjadi erupsi.
Sumber : DetikEdu











