Bisnis

Geopolitik AS–Iran Dorong Ketidakpastian Ekonomi, Bagaimana Dampaknya ke Harga Emas?

Samudrapikiran.com – Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah Amerika Serikat mulai menerapkan blokade laut terhadap Iran, khususnya di wilayah strategis Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah negosiasi damai antara kedua negara gagal mencapai kesepakatan, sehingga konflik berlanjut ke tahap tekanan ekonomi dan militer yang lebih serius.

Blokade ini berpotensi mengganggu distribusi energi global, mengingat sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut. Dampaknya langsung terasa di pasar energi, di mana harga minyak melonjak di atas $100 per barel akibat kekhawatiran gangguan supply. Kondisi ini memicu peningkatan risiko inflasi global karena biaya energi dan logistik ikut naik secara signifikan.

Menurut Analis Maxco Futures, Andrew Fischer emas atau gold biasanya menjadi aset yang diuntungkan karena berfungsi sebagai safe haven. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke emas untuk melindungi nilai aset mereka. Namun, situasi saat ini menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. Meskipun geopolitik mendukung kenaikan gold dan terjadi pelemahan dolar AS yang menjadi sorotan kembali dan masih menunggu update selanjutnya.

“Pengaruh pelemahan terhadap dolar AS hari ini  akan membuat pelemahan terhadap berita PPI yang akan rilis pada 14 April 2026 sehingga ini  juga berdampak terhadap investor untuk memanfaatkan opportunity tersebut,” ungkap Andrew Fischer dalam analisa hariannya di Maxco Futures, Selasa (14 April 2026)

Andrew menyebut, lonjakan harga minyak akibat blokade juga memperkuat tekanan inflasi, yang membuat peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve menjadi semakin kecil. Hal ini berdampak negatif bagi emas karena gold tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga kurang menarik ketika suku bunga tinggi.

Secara keseluruhan, konflik antara Amerika Serikat dan Iran menciptakan dua kekuatan yang saling bertolak belakang terhadap harga emas. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik dan inflasi mendorong permintaan gold. Namun di sisi lain, penguatan dolar dan kebijakan moneter yang tetap ketat menahan kenaikan harga emas.

“Oleh karena itu, pergerakan gold dalam kondisi ini cenderung volatile dan tidak selalu bergerak naik secara langsung, melainkan mengikuti kombinasi antara sentimen geopolitik dan arah kebijakan moneter global,” ujarnya.

Analisa Teknikal  

Lebih lanjut, Andrew memberikan Analisa prediksi untuk harga emas hari ini  pada 14 April 2026, pergerakan harga emas cenderung akan melanjutkan kenaikan setelah sebelumnya terjadi penurunan yang cukup terbatas  atau jangka pendek. Potensi untuk kenaikan terhadap emas ini  terjadi karena  faktor rencana amerika serikat memblokade selat Hormuz sehingga ini  akan berdampak terhadap kelangkaan minyak dan  membuat  USD cenderung menurun.

“Faktor yang membuat USD menurun adalah saat ini  amerika serikat masih terjadi gencatan senjata terhadap Iran sehingga ini yang membuat USD cenderung menurun , berbeda dengan yang sebelumnya USD naik saat terjadi penyerangan langsung ke Iran sehingga berdampak terhadap kenaikan masih akan terjadi,” tutur Andrew.

Selain itu tanda kenaikan terhadap emas ini  diprediksi akan mencapai harga 4860 USD dan masih ada potensi sampai ke 5000 USD kembali sehingga merupakan peluang yang cukup tepat untuk investor.

“Tanda kenaikan juga secara teknikal terjadi karena secara trendline harga masih mendukung untuk kenaikan dan potensi kelanjutan/continuation terhadap kenaikan masih akan terjadi. Berdasarkan pola candlestick pattern juga menunjukan daya beli terhadap emas ini  masih akan berlangsung secara signifikan,” pungkasnya.

 

Sebelumnya

Bramall Lane stadion tertua nan tangguh Milik Sheffield United

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Samudrapikiran.com