Abdullah bin Ummi Maktum, Sahabat Tunanetra yang Dipercaya Menjadi Muazin Subuh


Samudrapikiran.com – Kisah Abdullah bin Ummi Maktum menjadi salah satu bagian menarik dalam sejarah awal perkembangan Islam. Sahabat Nabi Muhammad SAW tersebut dikenal sebagai sosok tunanetra yang tetap memiliki peran penting dalam kehidupan umat Muslim pada masa Rasulullah SAW.
Keterbatasan penglihatan tidak menghalangi Abdullah untuk berkontribusi dalam perjuangan dakwah Islam. Ia bahkan termasuk as-sabiqun al-awwalun, yakni kelompok orang-orang yang lebih dahulu menerima ajaran Islam.
Sosok Abdullah bin Ummi Maktum yang Gigih Beribadah
Abdullah bin Ummi Maktum dikenal sebagai sahabat yang memiliki keterbatasan penglihatan sejak kecil. Kondisi tersebut tidak membuatnya menarik diri dari kehidupan umat atau berhenti menjalankan peran dalam masyarakat.
Sebaliknya, ia menunjukkan kesungguhan dalam menerima Islam dan menjalankan berbagai tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Keputusannya mengikuti dakwah Rasulullah SAW sejak masa awal menunjukkan besarnya komitmen Abdullah terhadap ajaran Islam. Ketika kaum Muslimin kemudian berhijrah ke Madinah, ia juga ikut meninggalkan Makkah.
Di Madinah, Abdullah tidak sekadar menjadi bagian dari komunitas Muslim. Ia juga memperoleh kepercayaan dari Rasulullah SAW untuk menjalankan sejumlah tugas penting.
Pernah Menggantikan Kepemimpinan di Madinah
Kedekatan Abdullah bin Ummi Maktum dengan Rasulullah SAW tercermin dari sejumlah amanah yang diberikan kepadanya.
Ketika Rasulullah SAW meninggalkan Madinah untuk menjalankan berbagai keperluan, termasuk dalam perjalanan yang berkaitan dengan peperangan, Abdullah beberapa kali dipercaya untuk menggantikan kepemimpinan sementara di Madinah.
Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa kondisi fisik tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan tanggung jawab di tengah masyarakat.
Abdullah tetap dipandang memiliki kapasitas dan integritas untuk menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.
Menjadi Muazin Bersama Bilal bin Rabah
Salah satu peran Abdullah bin Ummi Maktum yang paling dikenal adalah sebagai muazin Rasulullah SAW.
Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW memiliki dua muazin, yakni Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummi Maktum. Keduanya memiliki waktu yang berbeda dalam mengumandangkan adzan.
Hadis riwayat Bukhari menjelaskan bahwa Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari. Sementara itu, Abdullah bin Ummi Maktum mengumandangkan adzan setelah masuk waktu Subuh.
Pembagian tersebut memiliki fungsi penting bagi masyarakat Muslim pada masa itu. Adzan Bilal menjadi penanda awal pada malam hari, sedangkan adzan Abdullah menandai masuknya waktu Subuh.
Karena itu, masyarakat yang sedang menjalankan sahur dapat mengetahui bahwa waktu makan dan minum telah berakhir ketika adzan Abdullah terdengar.
Jarak antara kedua adzan tersebut disebut tidak terlalu lama. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesempatan untuk membedakan antara adzan yang dikumandangkan pada malam hari dan adzan yang menandai masuknya waktu Subuh.
Kisah Abdullah dan Turunnya Awal Surah ‘Abasa
Nama Abdullah bin Ummi Maktum juga sangat erat dikaitkan dengan turunnya awal Surah ‘Abasa, khususnya ayat 1 hingga 16.
Namun, terdapat hal penting yang perlu diperhatikan. Al-Qur’an tidak menyebut nama Abdullah bin Ummi Maktum secara langsung dalam rangkaian ayat tersebut. Al-Qur’an menggambarkan sosok yang datang kepada Rasulullah SAW dalam keadaan memiliki keterbatasan penglihatan.
Peristiwa tersebut berlangsung ketika Rasulullah SAW sedang berbicara dengan sejumlah tokoh Quraisy di Makkah.
Pada saat itu, Rasulullah SAW tengah berusaha menyampaikan dakwah kepada para pemuka Quraisy. Harapannya, mereka bersedia menerima Islam sehingga dakwah dapat memperoleh dukungan yang lebih luas.
Di tengah pembicaraan tersebut, Abdullah bin Ummi Maktum datang dan meminta Rasulullah SAW mengajarkan kepadanya sebagian ayat yang telah Allah SWT turunkan.
Karena sedang berkonsentrasi pada pembicaraan dengan para tokoh Quraisy, Rasulullah SAW berpaling dan melanjutkan percakapan tersebut.
Setelah peristiwa itu, turunlah awal Surah ‘Abasa sebagai teguran sekaligus bimbingan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Rangkaian ayat tersebut kemudian memberikan gambaran tentang perbedaan antara orang yang merasa berkecukupan dengan seseorang yang datang dengan kesungguhan untuk memperoleh pengajaran.
Pembahasannya berlanjut hingga ayat ke-16 dan ditutup dengan keterangan mengenai kitab-kitab yang mulia serta para utusan yang memiliki sifat berbakti.
Kisah tersebut juga menunjukkan betapa Islam memberikan perhatian terhadap orang yang datang dengan tulus untuk mendapatkan ilmu dan petunjuk.
Tetap Berperan dalam Perjuangan Kaum Muslimin
Perjalanan Abdullah bin Ummi Maktum tidak berhenti pada perannya sebagai muazin.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Abdullah disebut ikut dalam ekspedisi kaum Muslimin menghadapi Persia. Sejumlah sumber sejarah mengaitkan keikutsertaannya dengan Perang Qadisiyah, yang berlangsung sekitar tahun 14 Hijriah.
Keterbatasan penglihatan tidak membuat Abdullah mengurungkan niat untuk mengambil bagian dalam perjuangan tersebut.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Abdullah meminta agar ditempatkan di antara dua barisan dan diberi tugas membawa panji. Ia bertekad mempertahankan panji tersebut selama berlangsungnya pertempuran.
Sikap tersebut menggambarkan kesungguhannya dalam menjalankan peran yang diyakininya sebagai bagian dari perjuangan kaum Muslimin.
Gugur dalam Perang Qadisiyah
Perang Qadisiyah berlangsung sengit selama beberapa hari dan berakhir dengan kemenangan pasukan Muslim. Namun, kemenangan tersebut juga menimbulkan banyak korban jiwa dari pihak kaum Muslimin. Abdullah bin Ummi Maktum termasuk salah satu sahabat yang gugur dalam pertempuran tersebut.
Dalam kisah yang beredar mengenai peristiwa itu, jasad Abdullah ditemukan di medan perang dalam keadaan masih memegang panji yang menjadi tanggung jawabnya.
Riwayat tersebut menggambarkan bagaimana Abdullah tetap mempertahankan amanah hingga akhir hidupnya.
Keteladanan Abdullah bin Ummi Maktum
Kisah Abdullah bin Ummi Maktum menghadirkan sejumlah pelajaran penting bagi umat Islam.
Pertama, keterbatasan fisik tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti berkarya dan berkontribusi. Abdullah menunjukkan bahwa seseorang tetap dapat menjalankan peran penting ketika memiliki kemauan, keimanan, dan kesungguhan.
Kedua, kisahnya memperlihatkan pentingnya kepercayaan dan amanah. Rasulullah SAW memberikan berbagai tanggung jawab kepadanya, termasuk tugas sebagai muazin dan beberapa kali menggantikan kepemimpinan sementara di Madinah.
Ketiga, kisah Abdullah yang berkaitan dengan Surah ‘Abasa menunjukkan pentingnya memberikan perhatian kepada orang yang datang untuk mencari ilmu dan petunjuk.
Keempat, perjalanannya dalam Perang Qadisiyah menggambarkan keberanian serta kesediaannya mengambil bagian dalam perjuangan umat sesuai kemampuan yang dimilikinya.
Pada akhirnya, Abdullah bin Ummi Maktum dikenang bukan karena keterbatasan penglihatannya, melainkan karena keteguhan iman, kesungguhan beribadah, dan amanah yang dijalankannya.
Baca juga:









