Sejarah Nama Hari dalam Tradisi Islam, Makna dan Perkembangannya di Nusantara


Samudrapikiran.com – Nama-nama hari yang digunakan masyarakat saat ini ternyata memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Dalam tradisi Islam, penamaan hari dalam bahasa Arab tidak hanya berkaitan dengan urutan waktu, tetapi juga memiliki makna tertentu yang berkembang seiring perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat.
Sistem penamaan tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat Arab memahami waktu. Dalam kalender Hijriah, pergantian hari juga memiliki ketentuan yang berbeda dengan sistem kalender Masehi. Hari baru dimulai ketika matahari terbenam atau memasuki waktu Magrib.
Ketentuan tersebut berbeda dengan kalender Masehi yang secara umum menetapkan pergantian tanggal pada tengah malam. Jumhur ulama menjadikan terbenamnya matahari sebagai penanda masuknya hari berikutnya. Perbedaan konsep waktu ini turut berpengaruh terhadap penentuan berbagai aktivitas keagamaan, termasuk batas waktu ibadah dan sejumlah kewajiban yang berkaitan dengan kalender Islam.
Nama Hari dalam Tradisi Arab Sebelum Islam
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab telah memiliki istilah tersendiri untuk menyebut tujuh hari dalam satu pekan. Penamaan tersebut berbeda dengan istilah yang kemudian lebih dikenal dalam tradisi Islam.
Pada masa jahiliyah, hari Minggu disebut Awwal, sedangkan Senin dikenal dengan nama Ahwan. Selasa memiliki sebutan Jubar, sementara Rabu disebut Dubar.
Untuk Kamis, masyarakat Arab kala itu menggunakan istilah Mu’nis. Adapun Jumat dikenal dengan nama ‘Arubah, sedangkan Sabtu disebut Syiyar.
Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa sistem penamaan hari telah dikenal masyarakat Arab jauh sebelum berkembangnya peradaban Islam. Seiring perubahan sosial dan perkembangan ajaran Islam, istilah tersebut kemudian mengalami penyesuaian.
Perubahan Nama Hari dalam Bahasa Arab
Dalam perkembangan berikutnya, penamaan hari dalam bahasa Arab menjadi lebih teratur dengan menggunakan konsep bilangan atau urutan.
Hari pertama dalam satu pekan disebut Al-Ahad, yang bermakna pertama atau kesatu. Istilah tersebut kemudian dikenal sebagai sebutan untuk hari Minggu.
Hari kedua dinamakan Al-Itsnain, yang berarti kedua dan digunakan untuk menyebut Senin. Selanjutnya, hari ketiga disebut At-Tsulatsa’, sedangkan hari keempat disebut Al-Arbi’a’.
Hari kelima dikenal sebagai Al-Khamis. Adapun Sabtu menggunakan istilah As-Sabt, yang mempunyai makna berkaitan dengan berhenti atau beristirahat.
Sistem penamaan tersebut kemudian menjadi bagian dari istilah hari yang digunakan dalam bahasa Arab hingga sekarang. Dalam perkembangannya, istilah-istilah tersebut juga memengaruhi berbagai bahasa dan kebudayaan yang memiliki hubungan sejarah dengan dunia Islam.
Mengapa Hari Jumat Disebut Al-Jumu’ah?
Di antara tujuh hari dalam sepekan, Jumat memiliki kedudukan yang sangat khusus dalam ajaran Islam.
Dalam bahasa Arab, Jumat disebut Al-Jumu’ah. Istilah ini berkaitan dengan makna berkumpul atau pertemuan. Makna tersebut sejalan dengan pelaksanaan salat Jumat yang mempertemukan umat Islam dalam satu tempat untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah.
Nama Jumat juga memiliki perjalanan sejarah. Sebelum Islam, masyarakat Arab menggunakan istilah ‘Arubah untuk menyebut hari tersebut. Setelah Islam berkembang, istilah Al-Jumu’ah digunakan untuk menegaskan karakter hari Jumat sebagai waktu berkumpul dan menjalankan ibadah bersama.
Dalam tradisi Islam, Jumat juga dikenal dengan sebutan Sayyidul Ayyam, yang berarti pemimpin atau penghulu hari. Penyebutan tersebut berkaitan dengan keistimewaan dan berbagai peristiwa penting yang dikaitkan dengan hari Jumat.
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan sejumlah peristiwa yang berkaitan dengan Nabi Adam AS terjadi pada hari Jumat. Di antaranya penciptaan Nabi Adam, diturunkannya beliau ke bumi, hingga wafatnya.
Karena kedudukannya tersebut, umat Islam dianjurkan memberikan perhatian khusus terhadap hari Jumat, termasuk melaksanakan salat Jumat secara berjamaah dan memperbanyak berbagai amalan sunnah.
Nama Hari Islam dan Penggunaannya di Indonesia
Perjalanan istilah hari tidak berhenti di kawasan Arab. Ketika Islam berkembang ke berbagai wilayah, termasuk Nusantara, istilah dan sistem penanggalan Islam kemudian berinteraksi dengan kebudayaan lokal.
Salah satu contoh penting terjadi pada masa Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Pada tahun 1633 Masehi, Sultan Agung melakukan penggabungan sistem kalender Hijriah dengan kalender Saka.
Penggabungan tersebut menghasilkan sistem penanggalan yang menggabungkan unsur kalender Islam dan tradisi Jawa. Nama-nama hari yang digunakan antara lain Senen, Selasa, Rebo, Kemis, Jemuah, dan Setu.
Sistem tersebut menjadi salah satu contoh akulturasi antara kebudayaan Jawa dan tradisi Islam. Penggabungan kalender juga membantu masyarakat menyesuaikan berbagai kegiatan adat dan perayaan keraton dengan momentum keagamaan.
Mengapa Ahad Menjadi Minggu?
Dalam perkembangan bahasa sehari-hari di Indonesia, istilah Ahad kemudian berdampingan dengan nama Minggu untuk menyebut hari pertama dalam satu pekan.
Perubahan penggunaan istilah tersebut berkaitan dengan pengaruh bahasa Portugis. Kata Domingo, yang digunakan dalam bahasa Portugis untuk menyebut hari Minggu, disebut menjadi salah satu bagian dari sejarah masuknya istilah Minggu ke dalam penggunaan masyarakat.
Dalam perkembangannya, istilah Minggu menjadi lebih umum digunakan dalam bahasa Indonesia, meskipun kata Ahad tetap dikenal dan digunakan, terutama dalam konteks keagamaan maupun sebagian masyarakat Muslim.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa nama hari tidak hanya berkembang melalui ajaran agama, tetapi juga melalui interaksi antarbahasa, perdagangan, kekuasaan, serta pertukaran budaya.
Baca juga:










