Kisah Manna dan Salwa dalam Al-Qur’an, Nikmat Allah untuk Bani Israil di Padang Tih


Samudrapikiran.com – Kisah manna dan salwa merupakan salah satu peristiwa yang diabadikan Al-Qur’an sebagai gambaran pertolongan Allah SWT kepada kaum Bani Israil. Di tengah perjalanan panjang yang penuh kesulitan, mereka memperoleh makanan yang menjadi bentuk rezeki sekaligus pertolongan dari Allah SWT.
Kisah tersebut tidak hanya berbicara mengenai makanan yang dikonsumsi oleh Bani Israil. Di baliknya terdapat pelajaran mengenai bagaimana manusia seharusnya menyikapi nikmat, menjaga rasa syukur, serta menghindari sifat mudah merasa tidak puas terhadap pemberian Allah SWT.
Manna dan salwa diberikan ketika Bani Israil berada dalam kondisi yang tidak mudah. Setelah diselamatkan dari kekejaman Fir’aun, mereka menjalani perjalanan di kawasan Padang Tih, sebuah wilayah yang digambarkan sangat gersang dan penuh keterbatasan.
Dalam keadaan tersebut, Allah SWT memberikan sejumlah bentuk pertolongan. Selain memperoleh makanan, Bani Israil juga mendapatkan naungan awan untuk membantu melindungi mereka dari panas. Al-Qur’an mengabadikan pemberian tersebut dalam Surah Al-Baqarah ayat 57.
Manna dan Salwa sebagai Bentuk Pertolongan Allah SWT
Perjalanan Bani Israil di Padang Tih berlangsung dalam waktu yang sangat panjang, yakni kurang lebih 40 tahun. Kondisi lingkungan yang gersang tentu menjadi tantangan besar, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan dan air.
Namun, kesulitan tersebut tidak membuat mereka dibiarkan begitu saja. Allah SWT memberikan berbagai nikmat sebagai bentuk pertolongan. Salah satu di antaranya adalah manna dan salwa yang menjadi sumber makanan bagi mereka.
Dalam penjelasan para ulama tafsir, istilah manna merujuk pada rezeki yang diperoleh dengan mudah. Manna digambarkan menyerupai cairan yang memiliki rasa manis dan kental seperti madu.
Sementara itu, salwa dipahami sebagai sejenis burung kecil yang dapat dikonsumsi. Sejumlah penjelasan dalam kitab tafsir menggambarkannya sebagai burung yang memiliki kemiripan dengan burung puyuh.
Dengan demikian, manna dan salwa bukan sekadar makanan dalam kisah tersebut. Keduanya menjadi bagian dari pertolongan Allah SWT kepada Bani Israil ketika mereka berada dalam perjalanan panjang di wilayah yang sulit menyediakan bahan pangan.
Rezeki yang Tidak Membutuhkan Usaha Berat
Keistimewaan lain dari manna dan salwa terletak pada kemudahan memperolehnya. Bani Israil mendapatkan makanan tersebut ketika mereka berada dalam kondisi yang secara geografis sangat terbatas.
Mereka tidak harus mengandalkan aktivitas berat untuk memperoleh makanan seperti yang lazim dilakukan manusia dalam kondisi normal. Allah SWT memberikan kecukupan melalui cara yang menjadi bentuk pertolongan khusus bagi mereka.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pertolongan Allah SWT dapat datang melalui jalan yang tidak selalu dapat diperkirakan manusia.
Bagi Bani Israil, manna dan salwa menjadi sumber pangan yang membantu mereka melewati masa sulit. Di sisi lain, pemberian tersebut juga menjadi ujian mengenai bagaimana mereka menghargai nikmat yang telah diterima.
Ketika Nikmat Justru Menimbulkan Rasa Bosan
Pada awalnya, manna dan salwa merupakan karunia yang sangat membantu Bani Israil. Namun, perjalanan waktu membuat sebagian dari mereka mulai merasa jenuh terhadap makanan tersebut.
Rasa bosan kemudian berkembang menjadi keluhan. Mereka meminta Nabi Musa AS agar memohon kepada Allah SWT untuk memberikan makanan lain.
Keinginan tersebut berkaitan dengan makanan yang berasal dari hasil bumi. Bani Israil menginginkan jenis pangan yang menurut mereka lebih beragam daripada manna dan salwa yang selama ini mereka konsumsi.
Permintaan tersebut diabadikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 61.
Persoalan yang muncul dari peristiwa tersebut bukan semata-mata mengenai pilihan makanan. Al-Qur’an menghadirkan kisah ini sebagai gambaran mengenai sikap manusia ketika berhadapan dengan nikmat.
Sesuatu yang pada awalnya sangat berharga dapat terasa biasa ketika seseorang terlalu lama menikmatinya tanpa rasa syukur.
Teguran Nabi Musa AS kepada Bani Israil
Sikap Bani Israil tersebut mendapatkan teguran dari Nabi Musa AS. Mereka sebelumnya telah menerima makanan yang mudah diperoleh melalui pertolongan Allah SWT, tetapi justru meminta sesuatu yang lain karena merasa bosan.
Teguran tersebut memperlihatkan bahwa masalah utama bukan sekadar keinginan mendapatkan variasi makanan.
Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni cara seseorang memandang pemberian Allah SWT. Ketika hati dipenuhi rasa tidak puas, nikmat yang besar sekalipun dapat kehilangan nilainya di mata penerima.
Kisah manna dan salwa kemudian menjadi pelajaran lintas generasi mengenai pentingnya menjaga sikap ketika memperoleh rezeki.
Bani Israil Tidak Hanya Ditegur karena Makanan
Dalam rangkaian ayat tersebut, Al-Qur’an juga mengingatkan berbagai bentuk pembangkangan Bani Israil terhadap perintah Allah SWT.
Mereka disebut berulang kali mengingkari ayat-ayat Allah SWT dan melakukan berbagai tindakan zalim. Bahkan, Al-Qur’an menyebut adanya tindakan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar.
Dengan demikian, kisah manna dan salwa tidak berdiri sendiri sebagai cerita tentang makanan. Peristiwa tersebut berada dalam rangkaian kisah mengenai hubungan Bani Israil dengan nikmat dan perintah Allah SWT.
Sikap tidak bersyukur terhadap makanan yang diberikan menjadi salah satu gambaran dari persoalan yang lebih luas, yakni kecenderungan sebagian dari mereka untuk membangkang dan melampaui batas.
Akibat dari Sikap Durhaka dan Melampaui Batas
Surah Al-Baqarah ayat 61 juga menggambarkan akibat dari sikap pembangkangan tersebut. Bani Israil disebut mendapatkan kehinaan dan kemurkaan Allah SWT karena kedurhakaan serta tindakan mereka yang melampaui batas.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan manusia tidak berhenti pada seberapa banyak nikmat yang diterimanya. Cara seseorang memperlakukan nikmat dan menjalankan perintah Allah SWT juga menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Ketika pemberian tidak diiringi rasa syukur, sementara perintah justru diabaikan, nikmat yang seharusnya menjadi jalan kebaikan dapat berubah menjadi bagian dari ujian bagi manusia.
Baca juga:











