Mabrur dan Mabruroh: Memahami Perbedaan Istilah, Dalil, serta Ciri Haji yang Diterima Allah SWT


Samudrapikiran.com – Istilah haji mabrur tentu tidak asing bagi umat Islam, terutama ketika seseorang baru saja menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Ungkapan tersebut sering disampaikan sebagai doa dan harapan agar seluruh rangkaian ibadah yang telah dijalankan memperoleh penerimaan dari Allah SWT.
Selain istilah mabrur, umat Islam juga mengenal kata mabruroh. Keduanya memiliki akar kata yang sama dan sama-sama digunakan untuk menggambarkan ibadah yang baik serta diterima Allah SWT. Perbedaannya terutama terletak pada penggunaan bentuk kata dalam tata bahasa Arab.
Pemahaman mengenai istilah mabrur dan mabruroh menjadi penting agar penggunaannya tidak keliru. Lebih dari sekadar persoalan bahasa, predikat tersebut juga mengandung makna spiritual yang mendalam karena berkaitan dengan perubahan kualitas kehidupan seseorang setelah melaksanakan ibadah haji.
Apa Arti Mabrur dan Mabruroh?
Secara umum, kata mabrur berasal dari bahasa Arab mabrur (مَبْرُوْرٌ). Istilah ini berkaitan dengan sesuatu yang baik, diterima, dan mendapatkan keberkahan.
Dalam konteks ibadah haji, haji mabrur merujuk pada ibadah haji yang dilaksanakan dengan memenuhi ketentuan syariat dan mendapatkan penerimaan serta ridha Allah SWT.
Sementara itu, mabruroh (مَبْرُوْرَةٌ) merupakan bentuk feminin atau muannats dari kata mabrur. Perbedaan tersebut muncul karena bahasa Arab memiliki kaidah gramatikal yang membedakan bentuk kata berdasarkan gender.
Dengan demikian, penggunaan sederhananya adalah haji mabrur untuk laki-laki dan haji mabruroh untuk perempuan.
Meski berbeda dalam bentuk kata, keduanya memiliki substansi yang sama, yakni menggambarkan harapan agar ibadah haji seseorang diterima dan membawa perubahan positif dalam kehidupannya.
Perbedaan Mabrur dan Mabruroh dalam Bahasa Arab
Perbedaan paling mendasar antara mabrur dan mabruroh terletak pada tata bahasa Arab.
Mabrur (مَبْرُوْرٌ) merupakan bentuk mudzakkar atau maskulin. Dalam penggunaan yang berkaitan dengan individu laki-laki, istilah tersebut dapat digunakan untuk menyebut seseorang yang memperoleh predikat haji mabrur.
Adapun mabruroh (مَبْرُوْرَةٌ) merupakan bentuk muannats atau feminin. Akhiran ta marbuthah (ة) menunjukkan bentuk feminin dalam bahasa Arab.
Oleh sebab itu, seorang laki-laki yang telah menunaikan ibadah haji dapat didoakan memperoleh haji mabrur, sedangkan seorang perempuan dapat didoakan memperoleh haji mabruroh.
Perbedaan tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan tingkat keutamaan ibadah. Keduanya tetap merujuk pada kualitas dan penerimaan ibadah haji berdasarkan kehendak Allah SWT.
Haji Mabrur Tidak Hanya Dilihat dari Pelaksanaan Ritual
Predikat mabrur tidak semestinya dipahami hanya berdasarkan selesainya seluruh rangkaian ibadah haji.
Ibadah haji memang memiliki syarat, rukun, wajib, serta rangkaian amalan yang harus dilaksanakan. Namun, salah satu gambaran penting mengenai kemabruran haji dapat dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan seseorang setelah kembali ke lingkungan asalnya.
Seseorang yang sebelumnya kurang memperhatikan ibadah, misalnya, diharapkan menjadi lebih tekun setelah menunaikan haji. Demikian pula dengan akhlak dan hubungan sosialnya yang semestinya mengalami perbaikan.
Karena itu, predikat mabrur pada hakikatnya merupakan sesuatu yang tidak dapat dipastikan manusia. Hanya Allah SWT yang mengetahui apakah sebuah ibadah benar-benar diterima.
Meski demikian, terdapat sejumlah tanda yang dapat menjadi bahan introspeksi bagi seseorang setelah menyelesaikan ibadah haji.
Dalil tentang Keutamaan Haji Mabrur
Keutamaan haji mabrur memiliki landasan dari hadits Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW menjelaskan besarnya balasan bagi orang yang memperoleh haji mabrur.
Haji Mabrur Berbalas Surga
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
Al-hajjul-mabruuru laisa lahuu jazaa’un illal-jannah.
Artinya:
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”
Hadits tersebut diriwayatkan dalam Shahih Bukhari No. 1773 dan Shahih Muslim No. 1349.
Hadits ini menggambarkan betapa tingginya kedudukan haji mabrur dalam ajaran Islam. Balasan yang disebutkan bukan sekadar keberkahan dalam kehidupan dunia, melainkan surga sebagai balasan di akhirat.
Haji Mabrur Termasuk Amal yang Utama
Keutamaan haji mabrur juga disebutkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai amal yang paling utama. Nabi Muhammad SAW menjawab bahwa amal tersebut adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ketika ditanya mengenai amalan berikutnya, Rasulullah SAW menyebut jihad di jalan Allah. Setelah itu, ketika kembali ditanya mengenai amalan berikutnya, beliau menjawab:
“Haji mabrur.”
Hadits tersebut menunjukkan bahwa haji mabrur menempati kedudukan yang sangat tinggi dalam rangkaian amal yang utama setelah iman dan jihad sebagaimana konteks hadits tersebut.
Ciri-Ciri yang Dapat Menjadi Tanda Haji Mabrur
Tidak ada manusia yang dapat memastikan kemabruran ibadah seseorang. Namun, perubahan perilaku setelah menunaikan haji dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana ibadah tersebut memberikan pengaruh terhadap kehidupan.
1. Kualitas Ibadah Semakin Meningkat
Salah satu perubahan yang dapat terlihat adalah meningkatnya perhatian seseorang terhadap ibadah setelah pulang dari Tanah Suci.
Jika sebelum berangkat seseorang masih sering meninggalkan atau menunda ibadah, pengalaman spiritual selama berada di Baitullah diharapkan dapat mendorongnya menjadi lebih disiplin.
Semangat tersebut dapat terlihat melalui konsistensi melaksanakan salat, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta berusaha menjauhi perbuatan maksiat.
Perubahan tersebut bukan hanya muncul selama beberapa hari setelah kepulangan, tetapi idealnya menjadi kebiasaan yang terus dipertahankan.
2. Akhlak kepada Sesama Menjadi Lebih Baik
Kemabruran juga dapat tercermin melalui hubungan seseorang dengan orang lain.
Selama menjalankan ibadah haji, jamaah dituntut menjaga perilaku. Mereka dilarang melakukan perbuatan tidak senonoh, berkata buruk, bertengkar, serta melakukan berbagai tindakan yang bertentangan dengan nilai kesopanan dan ketakwaan.
Nilai tersebut seharusnya tidak berhenti ketika jamaah meninggalkan Tanah Suci.
Orang yang memperoleh pelajaran spiritual dari perjalanan haji diharapkan mampu membawa nilai kesabaran, kelembutan, pengendalian diri, dan toleransi ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, kualitas ibadah tidak hanya tercermin dalam hubungan seseorang dengan Allah SWT, tetapi juga dalam cara ia memperlakukan manusia di sekitarnya.
3. Tumbuhnya Kepedulian dan Empati
Tanda lain yang dapat menjadi bahan introspeksi adalah tumbuhnya kepedulian terhadap orang lain.
Pengalaman menjalankan ibadah bersama jutaan Muslim dari berbagai latar belakang dapat menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya persaudaraan dan kepedulian sosial.
Setelah kembali ke daerah asal, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sederhana, seperti membantu orang yang membutuhkan, berbagi makanan, memperhatikan tetangga, serta menjaga hubungan silaturahmi.
Kebaikan juga tidak seharusnya diberikan berdasarkan status sosial seseorang. Semangat berbagi dan membantu sesama justru menjadi bagian penting dari pembentukan akhlak setelah menjalankan perjalanan spiritual.










