Kajian Islam

Doa Dijauhkan dari ‘Ain Sesuai Ajaran Islam, Lengkap dengan Bacaan dan Amalannya

Samudrapikiran.comDi tengah kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang merasa kagum atau iri ketika melihat kelebihan, keberhasilan, maupun kenikmatan yang dimiliki orang lain. Dalam perspektif Islam, pandangan yang disertai perasaan tertentu dapat berkaitan dengan konsep ‘ain, yakni gangguan yang dipercaya muncul akibat pandangan mata.

‘Ain tidak hanya dipahami sebagai persoalan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kondisi batin. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT melalui doa dan amalan yang diajarkan dalam syariat.

Pemahaman mengenai ‘ain menjadi penting agar seseorang tidak hanya berhati-hati terhadap kemungkinan gangguan tersebut, tetapi juga menjaga hati dari iri, dengki, maupun kekaguman yang tidak disertai doa kebaikan.

Memahami Pengertian ‘Ain dalam Islam

Secara umum, ‘ain merujuk pada gangguan yang dikaitkan dengan pandangan mata. Pandangan tersebut dapat muncul karena rasa kagum, iri, atau dengki terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain, terutama apabila tidak disertai dengan doa kebaikan.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan menjelaskan bahwa pandangan seseorang dapat menjadi sebab munculnya gangguan terhadap orang maupun benda yang dipandang. Sementara itu, Al-Lajnah Ad-Daimah menerangkan bahwa istilah ‘ain berasal dari kata kerja ‘aana–ya’iinu, yang memiliki makna terkena sesuatu melalui mata.

Dalam penjelasan tersebut, prosesnya bermula dari rasa kagum terhadap sesuatu. Perasaan itu kemudian dapat disertai pengaruh jiwa yang negatif dan disalurkan melalui pandangan mata sehingga menimbulkan dampak buruk terhadap objek yang dipandang.

Islam menegaskan bahwa ‘ain merupakan sesuatu yang nyata. Rasulullah SAW bersabda:

“ ‘Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa.”
(HR. Muslim No. 2188)

Gangguan ‘ain dalam sejumlah penjelasan keislaman bahkan dikaitkan dengan dampak serius, mulai dari munculnya penyakit, kerusakan, hingga kematian. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW mengajarkan berbagai bentuk doa dan perlindungan yang dapat diamalkan umat Islam.

Doa Berlindung dari Pengaruh ‘Ain

Salah satu bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan adalah menjaga kebersihan lahir dan batin serta memperbanyak doa. Berwudu menjadi salah satu amalan yang dapat dilakukan sebelum beribadah dan memanjatkan permohonan perlindungan kepada Allah SWT.

Salah satu doa yang disebutkan dalam riwayat Bukhari adalah:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ

Artinya:

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracun dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.”

Doa tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’, No. 3120. Amalan ini dapat menjadi bagian dari ikhtiar seorang Muslim untuk memohon perlindungan Allah dari berbagai gangguan.

Doa Berlindung dari Kejahatan Makhluk Allah

Selain doa khusus berkaitan dengan ‘ain, terdapat pula doa yang bersifat lebih umum untuk memohon perlindungan dari berbagai kejahatan makhluk ciptaan Allah SWT.

Lafal doanya adalah:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ

Artinya:

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.”

Doa tersebut diriwayatkan dalam HR. Muslim No. 6818. Membacanya dapat menjadi salah satu bentuk tawakal sekaligus permohonan agar Allah SWT memberikan perlindungan dari segala bentuk keburukan.

Doa Malaikat Jibril untuk Ruqyah

Ruqyah juga dikenal dalam ajaran Islam sebagai salah satu bentuk ikhtiar melalui doa kepada Allah SWT. Amalan tersebut dapat dilakukan untuk memohon kesembuhan dari berbagai gangguan, termasuk ‘ain.

Sebelum membaca doa ruqyah, seseorang dapat membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Setelah itu, dapat dilanjutkan dengan doa yang dikenal sebagai doa Malaikat Jibril:

بِسْمِ اللهِ أرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءِِ يُؤْذِيْكََ مِن شَرِّ كُلِّ نَفْسِِ وَ عَيْنِ حَاسِدِِ اللهُ يَشْفِيكَ

Artinya:

“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang mengganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ‘ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”

Ruqyah dapat dilakukan untuk diri sendiri maupun membantu orang lain. Namun, terdapat prinsip penting yang perlu diperhatikan. Bacaan ruqyah hendaknya menggunakan firman Allah SWT atau Asma-Nya, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa lain, serta tetap disertai keyakinan bahwa kesembuhan hanya berasal dari Allah SWT, bukan dari prosesi ruqyah itu sendiri.

Ayat Kursi sebagai Salah Satu Amalan Perlindungan

Selain doa yang bersumber dari hadis, Al-Qur’an juga menjadi sumber utama amalan bagi umat Islam. Salah satu bacaan yang umum diamalkan sebagai bentuk perlindungan adalah Ayat Kursi, yakni Surah Al-Baqarah ayat 255.

Berikut bacaannya:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥

Artinya:

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Ayat tersebut menegaskan kebesaran, kekuasaan, dan penjagaan Allah SWT atas seluruh ciptaan-Nya. Karena itu, membacanya dapat menjadi bagian dari kebiasaan ibadah dan ikhtiar seorang Muslim dalam memohon perlindungan kepada Allah.

Menjaga Hati dari Iri dan Dengki

Perlindungan dari ‘ain tidak hanya berkaitan dengan bacaan doa. Menjaga kondisi hati juga menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Ketika melihat keberhasilan atau kenikmatan yang dimiliki orang lain, seseorang sebaiknya menghindari rasa iri dan dengki. Sebaliknya, rasa kagum dapat diarahkan menjadi doa kebaikan bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut.

Dengan demikian, seseorang tidak hanya berusaha melindungi dirinya dari kemungkinan gangguan ‘ain, tetapi juga berupaya menghindari dirinya menjadi sumber keburukan bagi orang lain.

Pada akhirnya, berbagai doa dan amalan tersebut merupakan bentuk ikhtiar. Seorang Muslim tetap perlu menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT dengan keyakinan bahwa hanya Dia tempat memohon pertolongan dan perlindungan.

Mengamalkan doa secara rutin, memperbanyak dzikir, menjaga hati dari iri dan dengki, serta memperkuat tawakal dapat menjadi bagian dari upaya menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Dengan begitu, pembahasan mengenai doa dijauhkan dari ‘ain tidak berhenti pada bacaan semata, tetapi juga mendorong umat Islam untuk memperbaiki hati dan mempererat ketergantungan kepada Allah SWT.

Sebelumnya

Ayat Al Quran tentang Bangun Pagi, Mengawali Hari dengan Ibadah dan Kedisiplinan

Selanjutnya

Hikmah Mempelajari Ilmu Tajwid, Menjaga Ketepatan Bacaan hingga Meraih Ridha Allah SWT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Samudrapikiran.com